Berkaca ke Turki, Indonesia Akan Majukan Industri Pariwisata Topang Ketahanan Perekonomian Nasional

Sektor industri pariwisata tengah dilirik pemerintah. Dengan meningkatkan sektor industri satu ini, diharapkan bisa memberikan kontribusi

Berkaca ke Turki, Indonesia Akan Majukan Industri Pariwisata Topang Ketahanan Perekonomian Nasional
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISHAK
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi, saat berikan pemaparan dalam agenda temu wicara Perkembangan Ekonomi Terkini Dalam Era Digital Ekonomi, di Bank Indonesia kantor perwakilan wilayah Kalbar, Senin (25/02/2019). 

Berkaca ke Turki, Indonesia Akan Majukan Industri Pariwisata Topang Ketahanan Perekonomian Nasional

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sektor industri pariwisata tengah dilirik pemerintah. Dengan meningkatkan sektor industri satu ini, diharapkan bisa memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Utamanya dalam membuka keran devisa negara. Sehingga defisit neraca perdagangan (Current Account Deficit - CAD) Indonesia yang saat ini minus jauh, bisa ditekan.

Hal ini sebagaimana disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi, saat berikan pemaparan dalam agenda temu wicara Perkembangan Ekonomi Terkini Dalam Era Digital Ekonomi, di Bank Indonesia kantor perwakilan wilayah Kalbar, Senin (25/02/2019).

Ia mencontohkan Turki yang ekonominya cukup digdaya berkat ditopang industri pariwisata. Dengan sektor pariwisata yang kuat, bahkan Turki menurutnya tak terlalu memusingkan kebijakan ekonomi apapun yang diambil sekutu di pakta Atlantik Utara - NATO, Amerika Serikat.

Baca: Jadwal Persib di Piala Presiden 2019, Radovic Bicara Peluang Maung Bandung Lolos Fase Grup

Baca: Bupati Rupinus MoU dengan Untan Pengembangan dan Implementasi Tridharma Perguruan Tinggi

Baca: Topik ILC TVOne Selasa 26 Februari 2019 Tiba-tiba Jadi Viral! Perbincangkan Kata Perang

Baca: B20 Sampai Genjot Industri Pariwisata, Langkah Pemerintah Pangkas Defisit Perdagangan

"Kuatnya sektor pariwisata Turki menjadi tulang punggung yang membuat Turki tak terlalu terpengaruh pada kebijakan ekonomi yang dibuat oleh Amerika Serikat. Termasuk moneter oleh lewat The Fed (Federal Reserve - Bank Central Amerika)," ujarnya

Karena itu, cukup beralasan manakala Turki bisa menjadi role model dalam mengembangkan pariwisata nasional. Sehingga nantinya benar-benar bisa menjadi satu di antara tulang punggung yang menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Ia memaparkan, dengan menterengnya nama Bali sebagai destinasi berstandar internasional yang dimiliki Indonesia saat ini, ternyata tak cukup baik dalam menopang kunjungan wisman manakala disandingkan dengan Turki.

Saat ini, tercatat Bali hanya mendulang kunjungan 5,6 juta sampai 7,6 juta wisatawan.  Sementara Turki, dalam setahun bisa dikunjungi 30 juta lebih wisatawan mancanegara (wisman).

Pun demikian dengan lama masa kunjungan atau lay of stay. Masa tinggal wisman di Indonesia rata-rata hanya 1,7 hari. Timpang jauh dari Turki yang rata-rata 10 hari, maksimal 15 hari.

Penulis: Ishak
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved