Sampaikan Nota Pembelaan, Penasehat Hukum Minta Isa Anshari Dibebaskan

Sidang ini dipimpin oleh Hakim Ketua Iwan Wardhana, dan Hakim Anggota, Ersin dan Hendra Kusuma Wardhana.

Sampaikan Nota Pembelaan, Penasehat Hukum Minta Isa Anshari Dibebaskan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ NUR IMAM SATRIA
Terdakwa Isa Anshari berfose ketika akan difoto oleh awak Media, pada lanjutan persidangan dengan agenda pembacaan nota pembelaan di Pengadilan Negeri Ketapang, Senin (11/2/2019). 

Sampaikan Nota Pembelaan, Penasehat Hukum Minta Isa Anshari Dibebaskan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Pengadilan Negeri (PN) Ketapang kembali menggelar sidang kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Ketua Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK), Isa Anshari, Senin (11/2/2019).

Dalam sidang beragendakan penyampaian nota pembelaan atau pledoi tersebut, penasehat hukum terdakwa meminta majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan.

Sidang ini dipimpin oleh Hakim Ketua Iwan Wardhana, dan Hakim Anggota, Ersin dan Hendra Kusuma Wardhana.

Dalam persidangan tersebut, satu diantara penasehat hukum terdakwa, Fahrurrazi membacakan nota pembelaan yang diberi judul 'Jalan Panjang Menggapai Keadilan', yang mana dalam penyampaiannya penasehat hukum terdakwa mengatakan kalau pledoi yang disampaikan pihaknya merupakan sumbang pikiran bagi majelis hakim yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan perkara terdakwa.

Baca: Kreasi Sungai Putat akan Adakan Festival Parit Bersih

Baca: Wabup Askiman Buka Sidang Daerah PGID Sintang di GKII Bethel

"Kalau memang terdakwa terbukti bersalah maka berikan hukum sesuai kadar kesalahannya, tetapi kalau tidak terbukti bersalah maka atas nama kemanusian, keadilan maka bebaskan terdakwa," katanya saat membacakan bagian dari pledoi.

Ia pun berharap majelis hakim dapat melihat ini, apalagi pihaknya menilai kasus ini tidak memenuhi dua alat bukti yang cukup, seperti keterangan ahli dari JPU yang hanya dibacakan namun saksi ahli tidak hadir yang mana hal tersebut tidak sesuai aturan, kemudian barang bukti screnshoot postingan dari akun facebook terdakwa yang diambil dari perangkat elektronik lain bukan dari handphone terdakwa yang dijadikan alat bukti.

"Untuk itu, isi dari pledoi kami yakni meminta majelis hakim untuk berkenan memutuskan perkara dengan amar putusan diantaranya menyatakan terdakwa Isa Anshari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diuraikan dalam dakwaan baik dakwaan atau tuntutan dari JPU atau setidak-tidaknya terdakwa lepas dari segala tuntutan hukum," jelasnya.

Perkara kasus yang menimpa terdakwa berawal dari sebuah video pidato pelapor yaitu mantan Gubernur Kalbar, Cornelis pada 26 Mei 2018 pada acara pertemuan temenggung Kalbar di Hotel Kapuas Palace Pontianak yang mendadak viral. 

Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved