Pendeta Paulus Minta PGID Sintang Perjuangkan Keesaan Gereja-gereja di Sintang

PGI Daerah juga harus memperjuangkan keesaan gereja di Sintang, gereja anggota PGI berbeda dalam banyak hal seperti tatacara

Pendeta Paulus Minta PGID Sintang Perjuangkan Keesaan Gereja-gereja di Sintang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Sidang Daerah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Daerah (PGID) Kabupaten Sintang dilaksanakan di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Bethel, Jalan DI Pandjaitan, Kabupaten Sintang, Senin (11/2/2019) pagi. 

Pendeta Paulus Minta PGID Sintang Perjuangkan Keesaan Gereja-gereja di Sintang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Sidang Daerah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Daerah (PGID) Kabupaten Sintang dilaksanakan di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Bethel, Jalan DI Pandjaitan, Kabupaten Sintang, Senin (11/2/2019) pagi.

Baca: Tak Hanya Fokus Infrastruktur, Bebby Nailufa: Pemberdayaan Masyarakat Sangat Diperlukan

Baca: Honda Tak Tutup Peluang Pebalap Lokal Berlaga di MotoGP, Asalkan

Baca: Prediksi MU Vs PSG: Leg 1 Babak 16 Besar Liga Champion, Kabar Baik Di Saat Cedera Neymar & Cavani

Ketua PGI Wilayah Kalimantan Barat, Pdt. Paulus Ajong menjelaskan bahwa PGI Sintang merupakan alat kelengkapan PGI Pusat yang berjuang mewujudkan keesaan gereja di Indonesia.

"PGI Daerah juga harus memperjuangkan keesaan gereja di Sintang. Kita tahu gereja anggota PGI berbeda dalam banyak hal seperti tata cara, liturgi dan lainnya. Sehingga perlu ada wadah pemersatu. PGI ini menjadi rumah bersama kita," katanya.

Menurutnya gereja tidak boleh mengisolasi diri di tengah masyarakat. Gereja tidak boleh hanya mengurus rohani saja. Tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat seperti ikut menanggulangi kemiskinan, kekerasan, kerusakan lingkungan dan lainnya.

"Fasilitas ibadah seperti gereja dan masjid harus terus dibangun oleh pemerintah dan masyarakat," terang Pdt. Paulus Ajong

Menurutnya gereja harus mempersiapkan jemaatnya menghadapi jaman digital seperti saat ini. Bagi yang tidak siap, maka orang tersebut akan jatuh ke dalam jurang individualisme dan hedonisme.

"Maka kita harus siapkan diri. Kita akan kehilangan kehangatan keluarga, waktu berharga akan hilang, gaya bekerja akan berubah, bahkan menghancurkan keluarga karena era digital ini," katanya.

PGI memberikan tips bagi jemaat gereja dalam menggunakan media sosial. Yakni Jam 18.00 sampai jam 21.00 tidak boleh sentuh handphone baik ayah ibu dan anak-anak.

"Gunakan waktu 3 jam tersebut untuk melaksanakan 3B yakni berbincang, belajar dan berdoa. Lakukan itu setiap hari. Kita tidak mungkin menolak media sosial tetapi menyeimbangkannya,” terang Pdt. Paulus Ajong.

Penulis: Wahidin
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved