Citizen Reporter

Mitos Asal Usul Gunung Batu Daya Menjadikannya Destinasi Alam Menarik di Kabupaten Ketapang

Gunung Batu Daya ini merupakan salah satu objek wisata yang belum banyak di garap. Gundukan batu raksasa yang tersebut merupakankeajaiban alam

Mitos Asal Usul Gunung Batu Daya Menjadikannya Destinasi Alam Menarik di Kabupaten Ketapang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Gunung Batu Daya, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang. 

Citizen Reporter
Yoges Ariandi
Universitas Panca Bakti

Mitos Asal Usul Gunung Batu Daya Menjadikannya Destinasi Alam Menarik di Kabupaten Ketapang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Bila anda ke Kabupaten Ketapang untuk liburan atau untuk melihat aneka keindahan alamnya, maka anda harus menyempatkan diri untuk mengunjungi wisata alamnya yakni Gunung Batu Daya.

Gunung yang terletak di kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tepatnya terletak diantara perbatasan Kecamatan Sungai Laur, Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Sukadana di Kabupaten Ketapang.

Gunung Batu Daya ini merupakan salah satu objek wisata yang belum banyak di garap. Gundukan batu raksasa yang tersebut merupakan fenomena keajaiban alam.

Baca: Lagi Berwisata Lalu Tiba-tiba Sakit? Ini Apotek di Singkawang yang Bisa Didatangi

Baca: Berencana Wisata ke Pulau Maya Kayong Utara? Berikut Infonya

Baca: Ingin Lihat Orangutan Liar? Datangi Wisata Lubuk Baji Kabupaten Kayong Utara

Masyarakat Sungai Laur menamakan gunung ini dengan nama “Gunung Gantang” karena bentuknya yang mirip gantang yaitu alat penyukat (penakar) padi. Ada juga yang menyebutnya “Bukit Daya” karena bila dilihat dari sisi yang lain sering berubah-ubah sehingga kita terpedaya, maka di sebutlah dengan Bukit Daya.

Nama Batu Daya sendiri bukan tanpa filosopi atau sejarahnya. Menurut masyarakat setempat nama tersebut berasal dari sebuah batu kecil yang membesar sebesar gunung.

Pasalnya menurut mereka dahulu kala ada sebuah keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anaknya yang berumur 3 tahun.Anak tersebut bernama Daya.

Suami dari ibu tersebut sudah lama meninggal dunia sehingga ibu itu harus hidup berdua saja dengan anaknya yang masih kecil.

Kehidupan sehari-hari dari ibu tersebut adalah bercocok tanam dan berladang. Ia sangat menyayangi anaknya, karena anak tersebut satu-satunyaanak yang dia miliki, sehingga kemanapun ia pergi pasti selalu membawa anaknya.

Halaman
123
Penulis: David Nurfianto (DAP)
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved