Warung Kopi Solidaritas Gelar Talk Show Dana Desa Untuk Rakyat

Warung Kopi Solidaritas kembali menyelenggarakan kegiatan talk show dengan tema "Dana Desa Untuk Rakyat'.

Warung Kopi Solidaritas Gelar Talk Show Dana Desa Untuk Rakyat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Moderator talk show, Moch Sab'in dan para pemateri dicara ngobrol pintar bersama Bonti, Mustain Billah, Amalia Irfani dan Putri Novita Sari. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Warung Kopi Solidaritas kembali menyelenggarakan kegiatan talk show dengan tema "Dana Desa Untuk Rakyat'.

Talk show ngobrol pintar (Ngopi) bersama ini dipandu langsung oleh pendiri Warkop Solidaritas, Moch Sab'in.

Dalam kegiatan yang dilangsungkan di di Warkop Solidaritas mengundang tiga narasumber. Mereka adalah Akademisi IAIN Pontianak, Amalia Irfani, KMA KITA, Mustain Billah dan Staf Pusat Konsultasi Bantuan Hukum (PKBH) Fakultas Hukum Untan, Putri Novita Sari.

Talk Show diselenggarakan setiap minggunya, tepatnya setiap hari Sabtu dengan tema yang berbeda-beda.

Baca: Ini Masing-masing Peran 5 Tersangka Kasus Hoaks 7 Kontainer Surat Suara Tercoblos

Baca: Syarifah Ida Harap Petugas Laboratorium Update Pengetahuan Karena Alat Medis Terus Berkembang

Baca: Pemerintah Siapkan Regulasi Baru Untuk Ojek Online, Agar Dapat Menyenangkan Semua Pihak

Mohc Sab'in sebagai moderator dalam kegiatan menuturkan kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat atas kegiatan pengawasan dana desa uang dikucurkan oleh pemerintah pada setiap desa yang ada.

"Saya memang tidak mendalami mengenai serapan anggarannya, tapi yang jelas dari pemerintah pusat sudah mentransfer pada setiap desa dengan sangat baik dan presiden menginstruksikan agar tidak ada kepala desa yang menyalahkan dan menyimpangkan dana desa," ucap Moch Sab'in saat membuka diskusi yang juga diikuti puluhan masyarakat dan mahasiswa di Warkop Solidaritas, Jalan Atot Ahmad, Pontianak Barat, Sabtu (12/1/2019).

Selanjutnya pemateri, Amalia Irfani menceritakan pengalaman suaminya, pernah menjadi pendamping PNPM dan bertugas disebuah kabupaten.

"Ada kepala desa yang membuat kegiatan fiktif dan itu diketahui dari masyarakat. Mereka menggunakan anggaran itu untuk kepentingan pribadi,"ujar Amalia Irfani saat menceritakan pengalaman suaminya menjadi pendamping program didesa.

Pada dasarnya, dana desa diberikan untuk rakyat dan ada yang tidak tepat sasaran, sehingga tugas masyarakat dan mahasiswa harus mengawasi penggunaan anggaran yang ada.

Sementara, Mustain Billah menyebutkan bahwa saat ini pemilihan kepala desa jauh lebih menarik.

Setiap calon maju beralasan untul bisa mengelola uang desa tapi harus diketahui masyarakat perlu mengawasi setiap anggaran yang ada.

"Saat ini tak jarang, para aktivis dan LSM larinya kedesa saat untuk mengawasi anggaran dana desa,"ujarnya.

Penulis: Syahroni
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved