Pontianak Wiki

TRIBUN WIKI: Keunikan Makam Batu Layang, Berikut Asal Mula Namanya

Makam Batu Layang merupakan makam Kesultanan dari Kerajaan Kadariah yang di Rajai oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri.

TRIBUN WIKI: Keunikan Makam Batu Layang, Berikut Asal Mula Namanya
ISTIMEWA/ ANISAH
Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Makam Batu Layang merupakan makam Kesultanan dari Kerajaan Kadariah.

Makam ini terletak di tepi Sungai Kapuas Pontianak Utara yang tidak jauh dari Tugu Khatulistiwa.

Baca: Menjadi Tujuan Wisata Religi, Makam Batu Layang Ramai Dikunjungi saat Lebaran

Anisah, mahasiswi IAIN Pontianak, mengirimkan tulisannya tentang makam Kesultanan Batu Layang.

Sebelum memasuki makam Batu Layang, Anda akan melihat gerbang utama makam Kesultanan Batulayang.

Ketika memasuki makam tersebut, Anda akan mendapatkan banyak sekali makam-makam yang berjejer.

Tidak hanya itu anda juga akan melihat para pengunjung, yang antusias pada saat memasuki makam Kesultanan Kadariah.

Baca: Ziarah Warga Desa Lingga di Makam Kesultanan Batu Layang Pontianak

Masyarakat yang berziarah di sana mempunyai niat tersendiri atau melepas niat yang telah di nazhomkan sebelumnya. 

Berdasarkan informasi dari salah satu penjaga di sana, konon katanya asal usul dinamakannya Batu Layang, karena terdapat batu-batu yang jika dilihat dari Sungai Kapuas, batu tersebut menampakkan bayangannya tidak tenggelam, tetap seperti melayang.

Selain itu, tak jauh dari dari tempat letaknya batu tersebut kita bisa mendapatkan satu meriam yang berwarna kuning dan memiliki tempat tersendiri.

Jika diperhatikan dengan seksama, posisi meriam tersebut menghadap ke arah Barat mengarah ke sebuah tempat yang seperti Pulau.

Meriam tersebut tidak sembarangan menghadap, dan tempat yang seperti pulau bukan sembarangan pulau biasa.

Tetapi, pulau tersebut adalah dahulu merupakan kapal besar milik Belanda, yang ditembak menggunakan meriam tersebut pada saat melawan penjajahan Belanda.

Sekarang meriam tersebut tidak lagi digunakan, tetapi mistisnya berdasarkan cerita warga yang rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian, meriam itu pernah  berbunyi sendiri.

Meriam tersebut saat ini masih dijaga dan masih tetap berada tak jauh dari batu-batu tersebut berada.

Selain untuk berziarah, makam ini juga dijadikan pengunjung sebagai tempat berekreasi, karena di tempat ini juga memiliki kantin yang menyediakan tempat duduk untuk bersantai atau melihat pemandangan yang ada di tepi Sungai Kapuas.

Pengunjung juga dapat bersantai di atas batu yang besar, sambil melihat pemandangan yang ada di tepi Sungai Kapuas. (*)

Penulis: Syahroni
Editor: Dian Lestari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved