Harga Kelapa Merosot, Nasib Petani Kelapa Memprihatinkan

Merosotnya harga jual kelapa, nasib petani kelapa Desa Rantau Panjang Kabupaten Kayong Utara sangat memprihatinkan.

Harga Kelapa Merosot, Nasib Petani Kelapa Memprihatinkan
TRIBUN/ISTIMEWA
Petani Kelapa keluhkan harga kopra 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak David Nurfianto

Citizen
Yeni
Mahasiswa Asal Kayong Utara

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Merosotnya harga jual kelapa, nasib petani kelapa Desa Rantau Panjang Kabupaten Kayong Utara sangat memprihatinkan.

Hal ini disebabkan karena jatuhnya harga kopra yaitu daging kelapa tua yang sudah dikeringkan, sebelum diolah menjadi minyak goreng.

Harga kopra sebelumnya mencapai Rp. 5000 perkilogram kini harganya hanya kisaran Rp. 2000 hingga Rp. 3000 perkilogram.

Angka itu masih nilai kotor. Belum dikurangi dengan biaya operasional petani untuk mengolah kelapa menjadi kopra yang siap jual.

Baca: Kanit Binmas Polsek Semparuk Sampaikan Imbauan Kamtibmas Kepada Tokoh Masyarakat, Ini Pesannya

Baca: Dinas Pertanian Hibahkan Bantuan Pada 25 Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pemasaran

Biayatersebut meliputi ongkos pengupasan, pembelahan, penyungkilan, penyalaian, pengarungan dan upah memanjat pohon.

Bujang Usman salah satu petani di Desa Rantau Panjang, Simpang Hilir, Kayong Utara, mengatakan bahwa hampir 5 bulan terakhir ini harga kopra mengalami pasang surut.

"Harganya kadang naik dan kadang juga turun. Kalaupun naik paling Cuma Rp. 2000 tapi kalau turun bisa sangat drastis bisa sampai Rp 5000,” Ujarnya, Selasa (8/1/2019).

Dia melanjutkan dengan harga Rp.2000 perkilogram pendapatan yang diterima oleh para petani kelapa hanya Rp.250 perkilogram setelah dipotong biaya operasional. Hal itulah yang membuat para petani resah.

Salah satu faktor yang menyebabkan turunnya harga kopra adalah permintaan yang menurun. Permintaan terhadap kopra menurun karena minyak kelapa hasil olahan kopra sudah kalah saing dengan minyak olahan dari kelapa sawit.

Baca: Kunjungi Pos Pol BKPM Tanjungpura, Kapolresta: Pos Tidak Boleh Kosong

Baca: Bhabinkamtibmas Desa Sebangun, Hadiri Kegiatan Kampung KB

“Tentu kalau begini kami yg rugi, contohnya saja untuk biaya pemanjatan, sudah tetap dan tidak dapat ditawar lagi. Ini menjadi masa tersulit saya selama menjadi petani kelapa. Karena hampir 70 persen penduduk di Desa Rantau Panjang adalah petani, maka kalau harganya tetap segitu-segitu tentu hidup petani tidak akan sejahtera," terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Usman petani tidak lagi menjual kelapa kopra, karena hasil kebunnya 
dijual dalam bentuk kelapa bulat, salah satu koperasi untuk pembuatan tepung kelapa.

Warga sangat berharap kepada pemangku kepentingan baik ditingkat Kabupaten maupun Provinsi dapat memperhatikan masyarakat petani di desa-desa salah satunya desa rantau panjang.

Agar bisa menaikkan kualitas harga kelapa.

Penulis: David Nurfianto (DAP)
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved