Citizen Reporter

Suku Melayu Serawai Lestarikan Rabana Dengan Teknik 3P

Salah satu kebudayaan lokal suku Melayu yang dilantunkan dan di nyanyikan oleh warga kecamatan serawai dalam acara pernikahan

Suku Melayu Serawai Lestarikan Rabana Dengan Teknik 3P
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Anggota Hadrah Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang. 

Citizen
Once Juniwati
Mahasiswi IAIN Pontianak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Melestarikan rebana sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat suku Melayu serawai dengan teknik 3P (perkumpulan, pelajar, pentaskan)

Salah satu kebudayaan lokal suku Melayu yang dilantunkan dan di nyanyikan oleh warga kecamatan serawai dalam acara pernikahan.

Kebudayaan ini dibawakan dengan perpaduan alat musik tradisional (tar) dan syair yang khas.

Baca: Mahasiswa Kiriman 2 Universitas Indonesia, Diduga Jalani Kerja Paksa di Taiwan

Baca: Momentum Hari Amal Bakti Kemenag ke 73, Pemkot Singkawang Jaga Kebersamaan

Kebudayaan ini sangat dikenal masyarakat khususnya serawai dan sekitarnya dengan sebutan rabana atau rebana.

Mokhtar warga kecamatan serawai mengatakan rabana adalah alat musik tradisional yang digunakan untuk mengiringi kasidah dan hadrah bisa juga untuk mengiringi nyanyian ataupun syair yang menggunakan bahasa Arab dengan makna ke islaman.

“Biasanya jumlah orang yang memainkan rabana tersebut ada 3-6 orang laki-laki yang bernyanyi sambil melantunkan syair. Ukuran rabana ada 3 pertama terkecil dengan ukuran 30cm, yang kedua ukuran sedang dengan garis tengah 60cm, dan yang terakhir yang paling besar dengan garis tengah 60-80 cm," ujarnya, Kamis (3/1/2019).

Mokhtar menjelaskan rabana merupakan alat yang di mainkan dengan cara dipukul menggunakan tanggan langsung pada bagian membran-nya.

Lapisannya terbuat dari kulit hewan. Suara yang dihasilkan dari rabana bervariasi tergantung dari ukuran rabana tersebut.

Mokhtar mengungkapkan rabana juga berfungsi sebagai musik iringan dalam suatu arak-arakan, dan biasanya digunakan untuk mengarak pengantik pria menuju ke rumah pengantin wanita pada saat pernikahan.

"Warga serawai biasanya juga sering melakukan pementasan rabana pada saat acara kemasyarakatan, seperti menyambut hari-hari besar islam seperti halnya maulid nabi Muhammad saw," tambahnya.

Mokhtar berharap dengan mengadakan pementasan rabana ini, dapat melestarikan dan menumbuhkan kembangkan seni budaya islam di kecamatan serawai.

"Sehingga kesenian keislaman tersebut dapat dijaga dan di lestarikan untuk generasi mendatang, agar kebudayaan ini tidak dilupakan nantinya," tutupnya.

Penulis: David Nurfianto (DAP)
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved