Citizen Reporter

Harga Sawit Rendah, Petani di Sintang Resah Tidak Bisa Penuhi Kebutuhan Pokok

Sawit yang menjadi komoditas andalan bagi masyarakat Kalbar, epatnya di Desa Kajang Baru Sp4 Pandan, Kabupaten Sintang.

Harga Sawit Rendah, Petani di Sintang Resah Tidak Bisa Penuhi Kebutuhan Pokok
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Sudi (66) saat memanen buah sawit, di Desa Kajang Baru Sp4 Pandan, Kabupaten Sintang belum lama ini 

Citizen 
Riska Sawitri 
Mahasiswi IAIN PONTIANAK

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Harga sawit melemah para petani resah tidak bisa penuhi kebutuhan pokok.

Pada keadaan ekonomi masyarakat sekarang, dalam keadaan pailit di karenakan imbas dari turunya harga sawit.

Sawit yang menjadi komoditas andalan bagi masyarakat Kalbar, epatnya di Desa Kajang Baru Sp4 Pandan, Kabupaten Sintang.

Baca: Suku Melayu Serawai Lestarikan Rabana Dengan Teknik 3P

Baca: Bupati Sambas Buka Rakor Pembangunan Desa

Khususnya untuk perkebunan sawit, begitu besar pengaruh dalam pertumbuhan ekonomi.

Seorang petani sawir yang saya hubungi bernama Sudi (66) mengatakan bahwa penurunan harga sawit ini merupakan penurunan yang sangat drastis.

"Harga sawit turun sangat drastis, sehingga kami sebagai petani hanya bisa berharap dan berdoa agar penurunan harga sawit ini tidak berkepanjangan," ujarnya, Rabu (2/1/2019).

Sudi menuturkan penurunan harga sawit yang begitu drastis memiliki dampak yang begitu besar bagi masyarakat setempat.

"Harga sawit yang dulu bekisar Rp.1.800 sampai Rp.1.500 dan sekarang harga sawit menjadi Rp.1.000 hingga Rp.8.00," terangnya.

Selain Sudi petani lainnya juga merasakan hal yang sama, Par (43) mengatakan dampak dari penurunan harga sawit ini begitu sangat terasa, bukan hanya petani yang merasakan dampak turunya harga sawit tapi juga dirasakan oleh para pedagang dikarenakan daya beli masyarakat yang begitu rendah.

"Penurunan harga sawit ini  sangat berdampak dengan penurunan hasil pendapatan petani sawit, sehingga pada akhirnya petani sawit tidak mampu membeli pupuk dan racun untuk menyemprot gulma (hama-red)," paparnya.

Jadi kalau hal ini sampai berkepanjangan, lanjut Par pada akhirnya produksi sawit akan turun dikarenakan tidak di pupuk.

"Jadi sekarang ini, petani sawit hanya bisa pasrah dan berharap agar pemerintah secepatnya mendapatkan solusi dalam penurunan harga sawit  pada akhir ini, agar harga sawit bisa naik kembali," tambahnya.

Masyarakat sangat berharap Pemerintah secepatnya mendapatkan solusi dalam penurunan harga sawit. Sehingga perekonomian akan berkembang dan harga beli masyarakat juga akan naik kembali.

"kami sebagai masyarakat hanya bisa berharap dan berdoa mudah-mudahan turunya harga sawit tidak berdampak kepada pendidikan," tutupnya.

Penulis: David Nurfianto (DAP)
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved