Kepala Pusat Distribusi Cadangan Pangan Pastikan Stok Beras Nasional Aman

Delapan daerah yang menjadi focus pemantauan. Selain Kalimantan Barat, ada juga Sumatera Utara, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Bali,Sulawesi Utara, NTT

Kepala Pusat Distribusi Cadangan Pangan Pastikan Stok Beras Nasional Aman
TRIBUN PONTIANAK/NINA SORAYA
Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Prof Risfaheri (tengah) memberikan pernyataan kepada media usai Rakor Pengamanan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Pada HKBN 2018 dan Tahun Baru 2019 Provinsi Kalbar, di Aula Kantor Bank Indonesia Kalbar, Selasa (11/12/2018). 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Nina Soraya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK – Pemerintah melalui Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kemeterian Pertanian melakukan pemantauan terhadap kondisi ketersedian dan harga pangan pokok atau strategis menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan Prof Risfaheri mengatakan ada delapan daerah yang menjadi focus pemantauan. Selain Kalimantan Barat, ada juga Sumatera Utara, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Bali,Sulawesi Utara, NTT dan Maluku.

Baca: Jelang Natal, Dinas Pangan Pastikan Stok Sembako Aman

Baca: Stok Telur Melimpah, Tapi Harganya di Pasaran Malah Mahal  

Baca: Operasi Pasar Bulog Sukses Stabilkan Harga Beras dan Gula

Dia menjelaskan berdasarkan prognosa produksi dan kebutuhan beras nasional maka tercatat stok beras yang ada di Bulog berjumlah 978.583 ton. Ini yang ada di Bulog saja belum termasuk jumlah yang ada di masyarakat. Sementara produksi beras (angka BPS) tercatat sebanyak 32,42 juta ton, dan ini artinya ada surplus.  

“Jadi sebenarnya untuk beras tidak ada masalah, termasuk juga untuk di Kalbar,” katanya saat meghadiri memimpin Rakor Pengamanan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Pada HKBN 2018 dan Tahun Baru 2019 Provinsi Kalbar, di Aula Kantor Bank Indonesia Kalbar, Selasa (11/12/2018).

Hanya saja, lanjut Risfaheri, di lapangan terjadi proporsi yang tak seimbang antara beras medium dan beras premium. Di mana jumlah beras premium lebih banyak ketimbang medium.

Beras ini tidak masalah, hanya di lapangan terjadi proporsi tidak seimbang antara beras medium dan beras premium. Medium sikit, premium banyak. Sehingga masyarakat memikirkan ini..

Di bulog sendiri, cadangan 2,1 juta ton jadi beras idak masalah, yang masalah kenapa beras tidak turun, klo stok barang ada.

Padahal banyak pula yang sebetulnya tidak murni premium atau ada juga beras medium dicampur ke premium lalu dijual dengan anggapan sebagai beras premium.

“Mungkin sekitar 36 persen yang memang benar-benar premium sesuai persyaratan. ,” ujarnya.

Dia mengakui terkait masalah ini, pemerintah sangat hati-hati.

“Kalau masalah pangan ini kita terlalu keras juga nanti ada keributan, bergejolak, maka pemerintah sangat hati-hati dalam menyelesaikannya,” sampainya.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved