Warisan Orangtua Seret Nuriana Terkena Kasus, Cari Keadilan Malah di Pidana!

Seorang ibu menjadi terpidana atas kasus yang dituduhkannya melakukan tindakan penyerobotan lahan seluas 1,4 Hektare

Warisan Orangtua Seret Nuriana Terkena Kasus, Cari Keadilan Malah di Pidana!
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Nuriana di dampingi Penasihat Hukumnya Masko Riyani saat di wawancara terkait dirinya mencari keadilan malah di pidana. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Seorang ibu menjadi terpidana atas kasus yang dituduhkannya melakukan tindakan penyerobotan lahan seluas 1,4 Hektare yang berada di Jl Sumatera Pontianak Selatan.

Seorang ibu tersebut di ketahui bernama Nuriana (58) warga Jalan Putri Dara Hitam Pontianak Kota saat ini tengah mencari keadilan atas kasus tanah warisan orangtuanya.

Ia Dipidana dan diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) atas tuduhan tindakan penyerobotan lahan yang dituduhkan oleh seorang pengusaha Lukman Khodijaya.

"Kasus yang bermula dari kasus tanah warisan orangtuanya, yang telah dijual oleh seseorang kepada Lukman Khodijaya,"ujar Nuriana pada Jumat (7/12/2018).

Baca: Lantik Kades Silat Hulu, Ini Pesan Bupati AM Nasir

Di dampingi Penasihat Hukumnya Masko Riyani, Nuriana menuturkan ketika orangtua meninggal dan meninggalkan warisan tanah kepada dirinya.

Namun tiba-tiba ada seseoang bernama Lukman Khadijaya yang mengaku telah membeli tanah tersebut dari anak dari orangtuanya telah menjual tanah warisan seluas 1,4 hektar di Jalan Sumatra, Kecamatan Pontianak Selatan kepada

Nuriana yang telah divonis pidana penjara tujuh bulan, mengaku sejak awal sudah merasakan adanya kejanggalan dari proses hukum kasus baik perdata dan pidana yang dialaminya.

"Sewaktu diperiksa di Polda. Oknum polisi bilang tidak akan menang lawan Lukman Khadijaya. Melawannya sama dengan melawan tembok. Bukti-bukti putusan pra peradilan dan putusan PN, PT dan MA tidak diterima penyidik dengan alasan tidak nyambung dengan kasus yang dihadapinya," kata Nuriana.

Kejanggalan lainnya, lanjut Nuriana, proses sidang pertama dan kedua tidak ada panggilan resmi dari pengadilan untuknya. Barulah disidang ketiga ia mendapat kabar, jika pada Januari 2018 harus mengikuti sidang.

"Informasi sidang itu pun bukan pakai surat resmi. Saya dikabari melalui telepon. Setelah saya protes barulah surat panggilan resmi itu diberikan kepada saya," ucapnya.

Halaman
123
Penulis: Hadi Sudirmansyah
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved