Pengamat Politik Nilai Hasil Survei Mesti Jadi Warning Incumbent

Pengamat Politik Untan Jumadi, Ph.D menilai survei hanya sekedar dasar untuk mengetahui perkembangan, kalau memang katakan survei

Pengamat Politik Nilai Hasil Survei Mesti Jadi Warning Incumbent
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIDHO PANJI PRADANA
Dr. Jumadi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Politik Untan Jumadi, Ph.D menilai survei hanya sekedar dasar untuk mengetahui perkembangan, kalau memang katakan survei dilakukan secara objektif dengan metedeologi yang benar tentu hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.

Tapi inikan Pilpres, memang politik kita dinamis, memang dalam banyak survei Jokowi tingkat elektabilitasnya daripada pasangan Prabowo.

Secara metedeologis survei kalau belum 60 persen itu memang agak berat, belum aman bagi Jokowi karena ini baru diangka 50 persen, jadi tentu hasil survei paling tidak menjadi catatan penting bagi seluruh tim sukses paslon untuk membuat strategi politik guna meningkatkan elektabilitasnya.

Baca: Inilah Hasil Survei LSI Denny JA dan Hasil Survei Median Jokowi dan Prabowo

Survei, kalau dibayarpun tidak masalah selama proses dan hasil survei tidak diintervensi, selama lembaga survei bisa menjaga integritas dan mempertahankan idealisme intelektual keilmiahannya, kecuali hasil direkayasa.

Dan jika direkayasa untuk membangun opini publik, dalam kaitan untuk mendapatkan dukungan dan merubah perilaku pemilih, tapi menurut saya cara seperti itu bunuh diri, jadi kalaupun misalnya dibayar oleh paslon tertentu, selama proses dan hasilnya tidak diintervensi tidak masalah.

Kemudian, untuk saling menyalib juga tergantung dinamika politik, soal pilpres kaitannya tidak hanya domestik tapi juga dikaitan regional internasional, situasi ekonomi, perkembangan politik nasional, situasi sosial juga menentukan.

Oleh karena itu walaupun banyak survei Jokowi tinggi tapi tetap perlu kerja keras.

Dan hal itu, menurut saya membuat tim Prabowo bersemangat untuk kemudian membangun strategi politik guna mengejar ketertinggalan, jadi tentu ini menjadi warning bagi timses Jokowi untuk kemudian terus bekerja meningkatkan elektabilitasnya.

Untuk meningkatkan elektabilitas tentu terkait dengan komunikasi politik, kemudian bagi incumbent yang berposisi memegang kekuasaan, semua kebijakan juga akan jadi pertimbangan pemilih.

Situasi ekonomi global yang tidak mampu diantisipasi misalnya juga akan menjadi pertimbangan pemilih, tapi kritik penantang politik tidak mampu menawarkan solusi yang rasional juga akan jadi pertimbangan pemilih.

Jadi menurut saya untuk sekarang pertarungan gagasan menjadi penting, jangan kemudian ditengah membangun dukungan politik.

Menebar informasi yang profokativ, hoax dan ujung-ujungnya bangsa kita terpecah, terlalu mahal menurut saya memilih Presiden tapi kita terpecah-pecah.

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved