Kisah Pilu Seorang Ayah Berjalan Kaki 3 Jam ke Rumah Sakit Gagal Selamatkan Bayinya Yang Kelaparan

Namun akhirnya, dokter menyatakan bayi Aqeel telah meninggal. Kabar duka itu tidak dapat langsung diterima Shoo'i yang sempat tampak kebingungan

Kisah Pilu Seorang Ayah Berjalan Kaki 3 Jam ke Rumah Sakit Gagal Selamatkan Bayinya Yang Kelaparan
ALARABY TV
Abdo Shooi menggendong bayinya, Aqeel, yang kelaparan ke rumah sakit dengan berjalan kaki lebih dari tiga jam.(ALARABY TV) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Seorang ayah di Yaman berjalan kaki selama lebih dari tiga jam demi membawa bayinya yang mengalami malnutrisi ke rumah sakit.

Namun setelah sampai di rumah sakit, bayi berusia lima bulan itu sudah tidak tertolong. Dokter mengumumkan bayi laki-laki itu sudah meninggal karena kelaparan.

Baca: Perjuangan Lamsiman Demi Kesembuhan Putranya yang Derita Tumor Otak, Berhutang Hingga Gadai BPKB

Baca: Mapolresta Pontianak Gelar Rekonstruksi Penganiayaan Putri Aisyah Hingga Tewas Oleh Ayah Kandung

Melansir dari The New Arab, Abdo Shoo'i mengaku tidak memiliki uang untuk membawa putranya, Aqeel, yang mengalami kekurangan gizi ke rumah sakit.

Shoo'i akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki ke sebuah pusat medis di distrik Aslam Hajja, yang berjarak lebih dari tiga jam berjalan kaki dari desa Jayah, tempat tinggalnya.

Shoo'i bahkan berjalan tanpa alas kaki.

 "Saya tidak punya uang untuk membayar transportasi. Saya bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar sampai seperempat perjalanan," katanya kepada reporter Alaraby TV di rumah sakit.

Setelah sampai di pusat medis, dokter yang bertugas segera memeriksa bayi itu.

Mereka berusaha selama satu jam lebih untuk menyelamatkan nyawa bayi yang sudah lemah tersebut.

Namun akhirnya, dokter menyatakan bayi Aqeel telah meninggal. Kabar duka itu tidak dapat langsung diterima Shoo'i yang sempat tampak kebingungan dengan penjelasan dokter bahwa putranya telah meninggal.

Bayi Aqeel bukan satu-satunya anak yang menjadi korban peperangan di Yaman yang mungkin telah meninggal karena kelaparan maupun penyakit, sejak pecahnya perang sipil pada 2015.

Halaman
12
Editor: Dhita Mutiasari
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved