Pileg 2019

Ireng Maulana: Demokrasi Untuk Penyandang Disabilitas Harusnya Tanpa Basa-Basi Formalitas

Maka dari itu, tantangan untuk memastikan disabilitas mental dapat memilih di 2019 terletak pada proses ini

Ireng Maulana: Demokrasi Untuk Penyandang Disabilitas Harusnya Tanpa Basa-Basi Formalitas
FACEBOOK
Ireng Maulana MA 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Publik menghargai semangat dan niat baik penyelenggara pemilu untuk memastikan disabilitas mental agar dapat ikut memilih di Pemilu 2019. 

"Partisipasi dalam agenda demokrasi menghendaki warga negara tidak terciderai haknya, satu diantaranya sebagai pemilih dalam pemilu, bahkan untuk penyandang disabilitas" terang Pengamat Politik Untan, Ireng Maulana MA, Kamis (22/11/2018).

Semangat dan niat baik penyelenggara pemilu juga harus di ikuti dengan upaya fasilitasi yang akan d berikan kepada penyandang disabilitas, khususnya disabilitas mental. 

"Kita juga harus terbuka bahwa muara dari komitmen ini harus d tunjukan dengan misalkan tahapan pemilu yang ramah bagi disabilitas," tambahnya. 

Baca: Atlet Singkawang Sumbang 36 Medali Porprov Kalbar 2018

Maka akses mereka terhadap rangkaian pemilu tidak boleh setengah-setengah, sebagaimana pemilih kebanyakan dapat mengikuti tahapan pemilu dgn lengkap. Sehingga orientasinya tidak hanya mereka hanya disiapkan mencoblos pada hari pemilihan, tapi juga memiliki pengalaman kongkrit melalui tahapan demi tahapan pemilu. 

Mereka tentu saja tidak lantas dapat memberikan pilihan jika tidak tahu apapun tentang pemilu dan isinya. Maka dari itu, tantangan untuk memastikan disabilitas mental dapat memilih di 2019 terletak pada proses ini. 

Baca: Tjhai Chui Mie: Ibu PKK Berperan Membangun Kota Singkawang

"Kita tidak dapat mengsimplikasi proses asalkan mereka bisa mencoblos tapi abai dalam mengikutsertakan mereka hingga mampu memilih," imbuhnya..

Barangkali mendata dan meregistrasi mereka sebagai pemilih pekerjaan teknis yang dapat di selesaikan, tapi memastikan mereka semua para penyandang disabilitas mental dapat melihat kepentingan diri mereka untuk memilih bukan hal yang mudah. 

Karena pemilih kebanyakan yang bukan penyandang disabilitas yang dapat dengan mudah terlibat dan ikut serta dalam tahapan pemilu pun sebagian besar masih belum menunjukan diri mereka sebagai  pemilih yg cerdas  dan rasional. 

Kita jangan menganggap bahwa urusan melibatkan penyandang disabilitas mental hanya terletak pada proses administrasi dan faktor kelayakan, namun lebih jauh dari itu semua terdapat logik kepatutan dan kesanggupan bahwa mereka tidak merasa dipaksa untuk memberikan pilihan tanpa mengetahui banyan hal tentang pemilu dan seisinya. 

Kita khawatir niat baik dan semangat penyelenggara pemilu malahan memposisikan mereka sbg pelaku pasif yang hanya menunggu digerakkan tanpa model keterlibatan yg sesuai dengan keterbatasan mereka.

"Mungkin ada baiknya wacana ini diletakkan pada menggagas tahapan pemilu yang ramah kepada disabilitas sehingga keterlibatan mereka pada batas tertentu dapat dinilai sebagai penghargaan pada tiap insan yang ingin berkontribusi bagi bertumbuhnya demokrasi, karena dasar demokrasi adalah memberikan keadilan sejati bagi siapa saja, tanpa basa basi formalitas," tuka Ireng Maulana

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved