Pengamat Nilai Tidak Ada Yang Terlalu Istimewa Dari Pemilih Kaum Muda

Pemilih yang berasal dari kelompok anak muda coba didekati dengan segmen kampanye yang sesuai dengan selera dan karakter anak muda

Pengamat Nilai Tidak Ada Yang Terlalu Istimewa Dari Pemilih Kaum Muda
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Pengamat Politik Untan, Ireng Maulana MA 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hamdan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Politik Untan Ireng Maulana menjelaskan ceruk pemilih yang berlatar belakang anak muda sangat menjanjikan, jadi rebutan, dan dianggap paling potensial. 

Seolah-olah ketika mendapatkan arus dukungan dari anak muda sebagai pemilih, politisi atau parpol tertentu sudah merasa memiliki modal politik yang kuat. 

Baca: Komunitas Berbagi Nasi Pontianak Gelar Aksi Menabung

Baca: Kanit Binmas Polsek Jawai Selatan Tidak Lelah Menyambangi Sekolah

Pemilih yang berasal dari kelompok anak muda coba didekati  dengan segmen kampanye yang sesuai dengan selera dan karakter anak muda pula. Citra yang dibangun untuk menyenangkan dan menarik ketertarikan anak muda. 

Barangkali politisi atau parpol terlalu melebih-lebihkan potensi suara anak muda, padahal dalam demokrasi kita; suara orang kaya sama nilainya dengan orang miskin, suara seorang profesor sama bernilainya dengan pemilih yg putus sekolah sekalilpun, dan suara orang tua juga sama nilainya seperti suara anak muda. 

Over ekspektasi mendapatkan suara anak muda malahan dikhawatirkan berakhir pada kontra realita, misalkan tidak ada jaminan bahwa anak muda akan se loyal ayah atau kakek mereka ketika sudah memiliki pilihan pada partai tertentu. 

Anak muda ini bisa jadi potensi swing voter terbesar, mereka sangat mungkin tidak loyal karena tidak terikat secara historis, ideologis atau value pada parpol, melainkan mereka hanya dirayu dengan pencitraan instan yang cepat menumbuhkan kekaguman dan akan pindah kepada referensi yang menawarkan kekaguman model lain. Cepat kagum dan sulit untuk loyal. 

Pemilih yang berasal dari anak muda juga tidak bisa diandalkan untuk komit datang memilih pada hari pencoblosan karena mungkin momen tersebut adalah pengalaman pertama dan merasa tidak merasakan beban apapun jika tidak berpartisipasi. 

Berbeda halnya dengan generasi orang tua atau kakek mereka yang telah mengikuti pemilu rutin setiap 5 tahun, dimana generasi ini memiliki semacam tanggungjawab moral untuk tetap hadir mencoblos. 

Terakhir, pemilih yang berlatar belakang anak muda mungkin akan lebih menjadi pemilih emosional dalam menentukan pilihan karena semangat asal berbeda atau asal tolak terhadap platform parpol yang mereka tidak senangi sejak awal tanpa menimbang lebih teliti kelebihan atau kekurangan visi, misi, paltform dan program kerja yang ada. 

Maka dari itu, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari pemilih dari kaum muda, sehingga parpol harus memperlakukan mereka sama seperti pemilih yang berasal dari latar belakang lainnya. 

Kampanye politik pun tidak perlu di istimewakan bagi kaum muda karena mereka harus memiliki pengalaman kampanye yang telah di rancang oleh parpol tanpa ada pengkhususan segmen. 

Jika pemilih muda ini terlalu dibedakan penanganannya, mereka akan berakhir sebagai pemilih bermental eksklusif yang tidak mau ikut merasakan pahit manisnya perjuangan berpolitik membangun demokrasi.

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved