OJK Kalbar Dorong Perusahaan Akses Alternatif Permodalan di Bursa

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang baik potensi-potensi perusahaan mikro, kecil, menengah maupun besar di Provinsi Kalbar

OJK Kalbar Dorong Perusahaan Akses Alternatif Permodalan di Bursa
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Workshop Go Public di Hotel Mercure Pontianak, (2/11/2018). 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moch Riezky F Purnomo mengatakan Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik, hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,18 persen pada triwulan II tahun 2018 (yoy).

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang baik potensi-potensi perusahaan mikro, kecil, menengah maupun besar di Provinsi Kalbar diakuinya cukup besar.

Untuk dapat merealisasikan potensi-potensi perusahaan di Provinsi Kalbar kata Riezky dibutuhkan sinergitas seluruh stakeholder terkait.

Baca: Sengketa Pilkades di Nipah Kuning dan Sedahan Jaya, Eko: Keputusan Bupati Mengikat

Namun harus digarisbawahi faktor permodalan merupakan faktor kunci yang dapat menentukan kapabilitas perusahaan. Permodalan yang minim akan menyulitkan perusahaan untuk berekspansi dan berinovasi.

Selanjutnya didalam memenuhi kebutuhan permodalan untuk aktivitas investasi ataupun operasional dari suatu perusahaan.

"Nah rekan-rekan pengusaha di Provinsi Kalbar masih terbiasa untuk menggunakan produk produk jasa keuangan yang cukup tradisional seperti kredit di Perbankan. Dalam hal ini perlu saya sampaikan bahwa sistem keuangan di Indonesia telah memiliki dasar hukum dan produk-produk keuangan yang dapat menjadi sumber permodalan dunia usaha selain kredit dari perbankan," ujar Riezky Workshop Go Public di Hotel Mercure Pontianak, (2/11/2018).

Sumber permodalan non-bank ini secara garis besar dijelaskan Riezky memiliki karasteristik yang tidak terlalu membebani struktur keuangan perusahaan. Sumber permodalan tersebut dapat berupa surat hutang (bonds) ataupun saham. Dengan sumber permodalan berupa surat berharga maka neraca perusahaan akan menjadi lebih baik dan tidak terlalu terbebani oleh karena bentuk return dari saham kepada investor berupa deviden berdasarkan pada kinerja perusahaan.

"Ini lebih baik dibandingkan bentuk hutang dalam bentuk kredit yang di dasarkan pada perjanjian dan bukan pada kinerja perusahaan. Keuntungan inilah yang mendorong banyak perusahaan di Indonesia melakukan IPO atau Go Public," ujar Riezky.

Hingga oktober 2018 terdapat 46 perusahaan go public baru di Bursa Efek Indonesia yang menambah total emiten menjadi 608 emiten. Di sisi lain walaupun IHSG terus terkoreksi, kata Riezky kapasitas investor lokal terus menguat dengan share kapitalisasi pasar mencapai 61,86 persen pada minggu kedua oktober 2018.

"Perkembangan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas keuangan Indonesia dan memajukan perkembangan pasar modal di Indonesia yang pada akhirnya akan memberikan angin segar kepada emiten maupun calon emiten yang ada di daerah maupun di ibu kota," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved