Parade Perahu Tradisional Festival Danau Sentarum 2018 Akan Digelar di Dusun Kedungkang

Parade Perahu Tradisional, tetap menjadi satu diantara beragam rangkaian acara yang akan digelar dalam Festival Danau Sentarum

Parade Perahu Tradisional Festival Danau Sentarum 2018 Akan Digelar di Dusun Kedungkang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / ANESH VIDUKA
Pengunjung menyaksikan perlombaan speedboat di kawasan pulau Sepandan Taman Nasional Danau Sentarum yang digelar pada rangkaian festival Danau Sentarum Betung kerihun (DSBK), di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat (27/10/2017). Festival DSBK merupakan agenda tahunan yang digelar Balai Besar Taman Nasional DSBK untuk mempromosikan kekayaan alam yang ada di du ataman nasional tersebut serta mempromosikan beragam budaya dan kerajinan tangan masyarakat Kapuas Hulu. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella 
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Parade Perahu Tradisional, tetap menjadi satu diantara beragam rangkaian acara yang akan digelar dalam Festival Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu pada pelaksanaan tahun ini.

Parade Perahu Tradisional adalah kegiatan menyusuri Danau Sentarum menggunakan perahu hias, Khas masyarakat Dayak yang disebut Parau Tambe yang nanti akan digelar di Dusun Kedungkang, Desa Sepandan, Kecamatan Batang Lupar.

Persipan juga telah dilakukan warga sejak beberapa bulan belakangan, terutama bagi warga yang tinggal di rumah Betang (rumah tradisional suku Dayak) di kawasan tempat acara akan digelar.

Baca: Pusdiklat Anggar Mempawah Siapkan Atlet ke Kejurnas Jakarta

Lom, Kepala Dusun Kedungkang mengatakan mereka telah melakukan berbagai persiapan untuk nanti siap ditampilkan saat acara Festival yang akan digelar pada 25-28 Oktober 2018 nanti.

Diantaranya seperti berbagai kerajinan tenun, anyaman, tarian dan berbagai seni pertunjukan yang akan ditampilkan nantinya.

"Disinikan kita kalau untuk tenun menggunakan bahan-bahan langsung dari alam, untuk pewarnaan kain dari daun-daun tertentu, jadi kalau kena air tidak luntur," katanya.

Ada 36 kepala keluarga yang tinggal di Rumah Betang yang sudah berdiri sejak 1987 itu, mereka siap menyambut kedatangan para pengunjung dengan keramahan dan berbagai seni pertunjukan yang mereka kuasai.

Karena sebagai masyarakat adat pada umumnya, warga Dusun Kedungkang masih sangat memegang teguh tradisi nenek moyangnya.

Mereka tidak sembarangan melakukan eksploitasi terhadap alam, karena hukum adat masih begitu teguh dipegang oleh mereka.

Makanya, selain memiliki Kepala Dusun, mereka juga masih memiliki Tuai rumah dan temenggung, yaitu orang-orang yang dipercaya untuk menjalankan aturan adat dan menerapkan hukum yang berlaku bagi siapa saja yang melanggarnya.

Halaman
12
Penulis: Bella
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved