Tiga Bulan SPBN Sungai Kakap Tutup, Nelayan Kesulitan Melaut

Tentu saja menurutnya kelangkaan tersebut membuat nelayan bertanya-tanya-tanya bahkan ia mengaku kerap dimarahi oleh nelayan.

Tiga Bulan SPBN Sungai Kakap Tutup, Nelayan Kesulitan Melaut
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Kurang lebih selama tiga bulan terakhir, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Kecamatan Sui Kakap tutup karena tidak mendapat pasokan BBM jenis solar dari Pertamina. Kondisi ini mengakibatkan nelayan diwilayah tersebut kesulitan untuk melaut. 

Laporan Wartawan Tribunpontianak, Try Juliansyah

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Kurang lebih selama tiga bulan terakhir, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Kecamatan Sui Kakap tutup karena tidak mendapat pasokan BBM jenis solar dari Pertamina. Kondisi ini mengakibatkan nelayan diwilayah tersebut kesulitan untuk melaut.

"Sudah tiga bulan ini kami tutup karena tidak ada pasokan BBM solar," ujar pengawas SPBN AKR Kecamatan Sui Kakap, Firman, Rabu (10/10/2018).

Baca: BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Ini Penjelasan Pihak Pertamina

Baca: Kantor KPPAD Kalbar Sementara Tutup, Pengaduan Dapat Dilakukan Disini

Berbagai usaha diakuinya telah dilakukan untuk mencari tau penyebab BBM mengalami kelangkaan.

"Kami sudah mempertanyakan kelangkaan BBM solar ini namun hingga kini tidak ada kepastian dari BPH Migas. Kita hanya diminta untuk menunggu, menunggu terus, tapi tidak ada jawaban yang pasti," ungkapnya.

Tentu saja menurutnya kelangkaan tersebut membuat nelayan bertanya-tanya-tanya bahkan ia mengaku kerap dimarahi oleh nelayan.

"Hampir setiap hari nelayan datang mau beli tapi sampai sekarang masih kosong, ada diantaranya juga memarahi kami mungkin karena kesal dan kecewa," tuturnya.

Ia sangat berharap kondisi seperti ini cepat berakhir dan pasokan BBM khusunya solar untuk nelayan dapat dipenuhi.

"Kita berharap ini bisa berjalan seperti biasa karena ini menyangkut pelayanan kepada masyarakat. Karena sudah pasti berdampak terhadap nelayan yang tidak bisa melaut, pastilah berpengaruh terhadap ekonomi nelayan, kan kasihan juga jadinya," katanya.

Sementara itu, satu diantara nelayan, Rian mengaku telah hampir enam bulan ia tidak melaut karena kesulitan memperoleh solar. Tentu saja kondisi ini diakuinya berdampak terhadap kehidupan ekonomi keluarga mereka.

"Dulu tidak pernah seperti ini, heran sekarang ini kok seperti ini kondisinya, kami jadi sulit mau melaut," katanya.

Bahkan ia pun terpaksa mencari pekerjaan sampingan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun karena nelayan merupakan profesinya selama 20 tahun terkahir ia mengaku tetap kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Untuk kebutuhan sehari-hari sudah sulit belum lagi untuk kebutuhan anak sekolah. Banyak kebutuhan yang harus saya penuhi sebagai kepala keluarga," katanya.

Ia berharap pemerintah mencarikan solusi agar BBM yang menjadi harapan utama nelayan untuk melaut tidak langka.

"Kalau pun ada minyaknya harga mahal karena nelayan di sini membeli dari pengecer. Harganya bisa sampai 10 ribu per liter, kalau dibandingkan dengan hasil tangkapan tidak berimbang," tutupnya.

Penulis: Try Juliansyah
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved