Dirut RSUD Sambas : Penyakit Kapastropik Masih Duduki Peringkat Teratas Yang Diidap Masyarakat

Tidak hanya itu, Gandjar mengatakan juga masih ada ditemukan pengidap Aids dari hasil pemeriksaan.

Dirut RSUD Sambas : Penyakit Kapastropik Masih Duduki Peringkat Teratas Yang Diidap Masyarakat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ M WAWAN GUNAWAN
Dirut RSUD Sambas, dr Gandjar Eko Prabowo 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak M Wawan Gunawan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS,- Direktur RSUD Sambas dr Gandjar Eko Prabowo mengatakan, untuk saat ini ada beberapa penyakit yang menduduki 10 besar penyakit yang sering di idap masyarakat.

Ia menjelaskan, dari beberapa jenis penyakit itu, masih di dominasi oleh penyakit Kapastropik atau yang lebih dikenal dengan penyakit yang harus terus menerus berobat tidak bisa sekali berobat selesai.

Baca: Dukung Manajemen Pemerintah Midji Norsan, MABM Kalbar Sampaikan 8 Pernyataan Sikap

Baca: Demi Mempercantik Diri, Perempuan Suku Angola di Afrika Gunakan Kotoran Sapi

"Penyakit 10 besar itu penyakit kapastropik, atau penyakit yang harus terus menerus berobat tidak bisa sekali berobat selsai. Lalu ada jantung, hipertensi, gagal ginjal, rematik dan penyakit geretrik atau penuaan diatas 60 tahun," ujarnya, Rabu (10/10/2018).

Tidak hanya itu, Gandjar mengatakan juga masih ada ditemukan pengidap Aids dari hasil pemeriksaan. Namun ia menjelaskan, para pengidap Aids itu mulanya hadir bukan karena menderita Aids, melainkan penyakit penyertanya.

"Kalau Aids juga ada, tapi pasien yang datang itu tidak sakit Aids nya, tapi datang dengan penyakit penyertanya seperti TBC, atau yang paling banyak TBC. Baru pada saat di periksa mereka teridentifikasi," sambungnya.

Ganjar menjelaskan, penyakit itu hampir selalu di sertai oleh TBC. Oleh karenanya apabila sudah sembuh maka akan tinggal meneruskan saja pengobatannya.

Sedangkan berkaitan dengan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Gandjar mengaku RSUD Sambas telah menyiapkan ruangan khusus untuk menampung dan mengobati penderita KKM.

"Kita untuk mendeteksinya kita ada tupoksi nya masing-masing, kalau di RSUD hanya menyediakan ruang isolasi dan petugas yang menanganinya. Selama ini kita sudah punya ruang isolasi, tapi petugasnya yang belum di latih khusus untuk menangani masalah-masalah ini. Seperti, mers, influenza flu burung dan lain-lain," tuturnya.

Untuk itu, perlu dilatih tenaga kesehatan yang lebih mempuni untuk menanganinya. Oleh karenanya ia berharap, dengan adanya kegiatan ini Ganjar menginginkan ada pelatihan lanjutan, atau penambahan petugasnya dan bisa juga penambahan fasilitas untuk alat pelindung dirinya. 

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved