Penetapan Kawasan Konservasi Lindungi Pantai Peneluran Penyu

Penyu diketahui baru siap berkembang biak memasuki usia 30 tahun, dan siklusnya penyu akan kembali bertelur tiga hingga lima tahun.

Penetapan Kawasan Konservasi Lindungi Pantai Peneluran Penyu
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Dirjen Kementrian Kelautan dan Perikanan, Bupati Sambas, Wakil Bupati Sambas, dan beberapa tamu undangan saat berfoto di pembukaan kegiatan Fespa 

Dengan menjaga keindahan dan kelestarian lingkungan yang ada di Temajuk, tentunya potensi pariwisata yang ada di Temajuk akan bisa terus dipromosikan oleh Pemerintah Kabupaten Sambas. Pemkab Sambas diakui Hairiah masih terus berusaha untuk meningkatan potensi pariwisata yang ada di Sambas yang satu diantaranya di Temajuk. Seperti Festival Pesisir Paloh yang sudah dua tahun belakangan ini diambil tanggung jawab penyelenggaraannya oleh Pemkab Sambas dari yang sebelumnya diselenggarakan oleh WWF. “Alhamdulillah Fespa ini semakin lama semakin ramai, dan juga masyarakat semakin tahu selain kita menjaga alam kita juga menjual pariwisata yang ada disini,” tutur Hairiah.

Kawasan Konservasi Perairan

 Merujuk pada data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, kawasan konservasi perairan adalah kawasan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. Pengaturan pemanfaatan kawasan konservasi perairan dilakukan dengan tujuan  untuk menciptakan tertib pemanfaatan kawasan konservasi perairan di bidang penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pariwisata alam perairan serta penelitian dan pendidikan berdasarkan asas dan prinsip konservasi sumber daya ikan.

Kawasan konservasi sendiri terdiri dari empat kawasan yang ditetapkan oleh menteri, yaitu Taman Nasional Perairan, Taman Wisata Perairan, Suaka Alam Perairan, dan Suaka Perikanan.

Menurut Undang-Undang No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kawasan Konservasi terdiri dari zona inti yang melindungi mutlak ekosistem serta untuk penelitian dan pendidikan, zona pemanfaatan terbatas yang melindungi ekosistem namun juga bisa untuk tempat pariwisata dan rekreasi maupun untuk penelitian dan pendidikan, dan zona lain sesuai dengan peruntukan kawasan melingkupi perlindungan dan rehabilitasi.

Adapun fungsi utama kawasan konservasi adalah perlindungan habitat atau ekosistem, kesesuaian dengan zonasi dan peruntukannya, pertimbangan daya dukung dan daya tampung.

World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Program Kalimantan Barat selaku lembaga yang konsen memperjuangkan wilayah konservasi di perairan Paloh satu diantaranya melalui langkah penetapan zonasi kawasan konservasi.

Saat ditemui di Camp WWF Sui Belacan Sabtu (6/10/2018) siang, Acting Manager Protected and Conserved Areas WWF-Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan WWF dan Pemkab Sambas sudah menyusun peta usulan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZW3P) di Kabupaten Sambas tepatnya di Kecamatan Paloh.

 Rencana zonasi ini sebenarnya adalah dokumen yang harus ada terlebih dahulu sebelum dokumen rencana zonasi detailnya disiapkan terkait dengan pembagian zona.

“Peta usulan disusun berdasarkan hasil riset selama ini, jadi untuk pengusulan kawasan rencana zonasi itu misalnya kawasan perairan itu ada dibagian mana, kawasan konsevasi penyu ada dibagian mana, dan kawasan pemanfaatan ada dimana, kalau untuk hotspotarea peneluran penyu sepanjang 19,3 kilometer dari Pantai Sungai Ubah – Pantai Sungai Mutusan, masuk dalam area desa Sebubus,” tutur Albertus.

Halaman
1234
Tags
penyu
Paloh
Penulis: Destriadi Yunas Jumasani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved