Penetapan Kawasan Konservasi Lindungi Pantai Peneluran Penyu

Penyu diketahui baru siap berkembang biak memasuki usia 30 tahun, dan siklusnya penyu akan kembali bertelur tiga hingga lima tahun.

Penetapan Kawasan Konservasi Lindungi Pantai Peneluran Penyu
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Dirjen Kementrian Kelautan dan Perikanan, Bupati Sambas, Wakil Bupati Sambas, dan beberapa tamu undangan saat berfoto di pembukaan kegiatan Fespa 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Destriadi Yunas Jumasani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS – Sepanjang 63 kilometer garis pantai di Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas menjadi satu lokasi peneluran penyu terpanjang di Indonesia. Kawasan pantai dari Tanjung Belimbing hingga Tanjung Dato’ terdata menjadi lokasi peneluran empat jenis penyu.

Berdasarkan data monitoring yang dikumpulkan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, sebanyak 98% wilayah peneluran penyu di Paloh merupakan tempat bersarang bagi Penyu Hijau (Chelonia mydas), dan 2% lainnya juga didatangi oleh Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

Baca: Taman Nasional Danau Sentarum, Keanekaragaman Hayati, Budaya Dan Festival Tahunan

Baca: Pemerintah Kabupaten Sambas Gelar Festival Pesisir Paloh Ke-7, Ini Kata Bupati

Namun, saat ini Penyu Belimbing menjadi hal yang sangat langka ditemukan, apalagi bertelur di sepanjang pesisir Paloh.

Penyu diketahui baru siap berkembang biak memasuki usia 30 tahun, dan siklusnya penyu akan kembali bertelur tiga hingga lima tahun.

Musim puncak peneluran penyu di sepanjang pesisir Paloh berlangsung sejak bulan April hingga September, namun puncak peneluran terbanyak terjadi pada bulan Juni hingga Agustus.

Di tahun 2009 berdasarkan data monitoring WWF pada bulan Juni ditemukan sebanyak 1600 sarang telur penyu. Namun berdasarkan data hasil monitoring jumlah sarang mengalami penurunan hingga tahun 2014 baru di tahun 2015 hingga 2016 mulai mengalami kenaikan signifikan.

Meski sudah diawasi oleh petugas lapangan (enumerator) yang diberdayakan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), perburuan telur penyu masih menjadi momok upaya konservasi penyu di Paloh melalui jalur-jalur tikus yang dibuat penjarah menuju ke pantai.

Namun permasalahan konservasi penyu di kawasan Paloh tidak hanya melulu melawan maraknya penjarahan telur penyu. Tantangan terbesar lainnya untuk wilayah konservasi ini juga datang dari sampah plastik yang mencemari laut, dan penetapan zona konservasi perairan.

Sampah Plastik

Halaman
1234
Tags
penyu
Paloh
Penulis: Destriadi Yunas Jumasani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved