Khawatir dengan Virus Rubella, Rena Rela Lakukan Imunisasi hingga ke Malaysia

Ia mengaku mendapatkan vaksin Measles, Mumps and Rubela (MMR) pada tahun lalu di Kuching

Khawatir dengan Virus Rubella, Rena Rela Lakukan Imunisasi hingga ke Malaysia
ISTIMEWA
Rena Mardita dan Suami 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sebagai calon seorang ibu yang tengah mengandung lima bulan, Rena Mardita mengaku khawatir terhadap virus rubella yang saat ini tengah getol untuk dilakukan imunisasi di Indonesia untuk mencegah  penularannya.

Bagaimana tidak, bila virus ini menginfeksi ibu hamil pada trimester pertama, maka resiko janin tertular 80-90 persen dengan resiko keguguran atau bayi lahir cacat.

Namun ia bersyukur, sejak enam tahun lalu sudah turut serta menjadi penggiat vaksin melalui media sosial dan sudah punya kesadaran akan pentingnya imunisasi.

Baca: Aktivitas Pasar Tradisional Kota Palu Mulai Normal

"Saya sampaikan ke suami mengenai bahayanya virus rubella, dan beliau mendukung saya untuk iktiar vaksin dulu sebelum program hamil anak keempat ini," katanya bercerita kepada Tribun.

Ia mengaku mendapatkan vaksin Measles, Mumps and Rubela (MMR) pada tahun lalu di Kuching, Malaysia karena stok vaksin MMR sempat kosong selama kurang lebih dua tahun di Indonesia dan hanya tersisa di Malaysia dan Singapore.

Tidak hanya di medsos, di dunia nyatapun Rena selalu mengkampanyekan mengenai pentingnya imunisasi, apalagi mengingat semakin menjamurnya antivaksin belakangan ini.

"Isu yang mereka angkat selalu sama sih, kalau bukan karena status kehalalan, yah menilai vaksin adalah konspirasi Yahudi dan melemahkan generasi muslim padahal semua ada bantahannya," katanya Rena.

Padahal menurutnya, bagaimana mungkin MUI mengeluarkan fatwa mubah bila vaksin haram dan cakupan vaksin di Arab Saudi bahkan Israel pun terbilang cukup tinggi.

Baca: Kapolda Kalbar Tinjau Stan di Pameran Alutsista TNI

Maraknya gerakan antivaksin ini, menurutnya lebih karena kurangnya edukasi dari tenaga kesehatan sehingga para orang tua yang literasinya rendah menjadi mudah termakan hoax.

Sehingga kepada pemerintah, Rena berharap agar pemerintah lebih responsif untuk mengkampanyekan pentingnya vaksin dengan melakukan sosialisasi merata ke sekolah-sekolah, ke RT dan posyandu.

"Upgrade informasi ke tenaga kesehatan juga tidak kalah penting. Bagaimana mungkin orang awam mau menyuntik anaknya jika tenaga kesehatan justru ketika ditanya tidak bisa menjawab dengan sumber yang benar dan meyakinkan? Malah saya dengar ada oknum tenaga kesehatan yang menakuti orang tua supaya tidak memvaksin anaknya. Ini kan bahaya sekali," pungkasnya.

Penulis: Bella
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved