Tipologi Kebosanan Saat Belajar di Kelas dan Dampak Buruknya Bagi Siswa

Jika dilihat dari faktor mental, hal itu bisa disebabkan siswa memiliki porsi tekanan dalam belajar lebih besar ketimbang rasa senang....

Tipologi Kebosanan Saat Belajar di Kelas dan Dampak Buruknya Bagi Siswa
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Pengamat Pendidikan sekaligus akademisi IKIP PGRI Pontianak, Tri Mega Ralasari. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ishak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Rasa bosan dalam belajar adalah satu kewajaran. Bukan hal aneh, cara mengelolanya lantas menjadi hal yang penting dilakukan.

Pengamat pendidikan yang juga akademisi IKIP PGRI Pontianak, Tri Mega Ralasari, lantas mencoba menjabarkan beberapa hal penting terkait hal tersebut.

Sehingga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi para pelajar jika hadapi situasi serapan di kelas.

Baca: Cara Unik Naomi Hadapi Bosan Saat Belajar di Kelas yang Hambat Daya Serap Materi Pelajaran

Baca: Manfaat Waktu Rehat Jam Pelajaran Agar Segarkan Suasana Dari Kepenatan di Kelas

"Penyebab bosan paling utama karena adanya faktor jenuh atau letih dalam belajar. Bisa bersifat mental maupun fisik," ujarnya, Sabtu (16/09/2018).

Bosan sendiri,  dalam kamus besar bahasa Indonesia secara singkat bisa diartikan sebagai kondisi yang terjadi karena hal-hal yang dilakukan berulang dan terlalu banyak.

Sehingga rentan mendera siapapun, termasuk para pelajar di sekolah.

"Jadi bosan itu pasti akan dialami oleh tiap orang. Bukan hanya siswa di dalam kelas," sambungnya.

Jika dilihat dari faktor mental, hal itu bisa disebabkan siswa memiliki porsi tekanan dalam belajar lebih besar ketimbang rasa senang untuk mengolah pembelajaran. Misalnya, siswa dituntut untuk melewati fase belajar, sementara siswa sendiri tidak berminat dalam mata pelajaran tertentu.

Atau metode ajar yang disampaikan oleh guru monoton dalam menyampaikan materi. Sehingga membuat pembelajaran terasa hambar dan kurang menyenangkan

Sedang jika dilihat dari faktor fisik, semisal siswa memiliki banyak aktifitas di luar pembelajaran di kelas. Seperti kegiatan ekskul yang berlebihan, sampai pada terlampau sering ngumpul bersama kawan tanpa tujuan yang jelas.

"Akibatnya siswa mungkin kurang dalam istirahat. Ditambah asupan nutrisi yang tidak berimbang bisa menimbulkan keletihan dan tidak bersemangat dalam belajar, sehingga dalam memulai dan masuk dalam pelajaran akan cepat merasa bosan," timpalnya.

Lantas, apa dampak buruknya?. Jika sudah begini, katanya,  otomatis ketika bosan mulai melanda siswa dalam mengikuti pembelajaran, hal- hal penting yang disampaikan oleh guru tidak akan terserap optimal oleh siswa.

"Karena tadi. Keletihan mental dan fisik yang tidak mendukung situasi belajar agar menjadi lebih kondusif. Hal ini bisa saja menyebabkan siswa akan sulit untuk melewati step by step belajar ke tingkat yang lebih tinggi, atau istilah singkatnya transfer belajar," pungkasnya.

Penulis: Ishak
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help