Kalbar di Posisi Akhir Hasil Penelitan National University of Singapore, Gubenur Terpilih Terkejut!

Asia Competitiveness Institute (ACI), Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore

Kalbar di Posisi Akhir Hasil Penelitan National University of Singapore, Gubenur Terpilih Terkejut!
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / SYAHRONI
Calon Gubernur Nomor urut tiga, Sutarmidji 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANA.CO.ID, PONTIANAK - Asia Competitiveness Institute (ACI), Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore (NUS), telah merilis terkait hasil penelitian mereka yang dilakukan di seluruh provinsi se Indonesia.

Hasil pelitian yang dilakukan ini tak membanggakan bagi seluruh warga Kalbar, karena hampir semua indikator Kalbar berada diurutan paling belakang.

Melihat hasil penelitan tersebut Midji mengaku terkejut.

Gubernur Kalbar terpilih, Sutarmidji menyebutkan hasil penelitan ini cukup memalukan bagi Kalbar lantaran temuan penelitian terkait Kualitas Hidup fan Pembangunan Infrastruktur, Kalbar berada di urutan 33 dari 34 Provinsi se Indonesia dan hanya berada diatas Provinsi Papua.

Baca: Percepat Pembangunan Bandara, Pemkot Singkawang Gandeng Pihak Ketiga

Secara keseluruhan suvey NUS ini menempatkan Kalbar berada di posisi ke 28 untuk kemampuan daya saing dan turun tujuh peringkat dari tahun sebelumnya.

"Survei NUS menunjukkan daya saing Kalbar secara umum menurun tajam. Pertama dilihat Kalbar daya saingnya berada di peringkat 28. turun tujuh tingkat dibanding tahun sebelumnya," ucap Midji saat diwawancarai diruang kerjanya setelah mendapat dan mengjaji hasil penelitan dari NUS diruang kerjanya, Jumat (10/8/2018).

Kemudian dijelaskannya ada penurunan dalam lingkup stabilitas ekonomi makro dari peringkat 22 menjadi 26. Persaingan bisnis dan tenaga kerja dari peringkat sembilan ke 19. dan yang lebih parah lagi dan membuat malu ditegaskannya terkait pembangunan infrastruktur urutan sekarang ke 33 dan turun dari posisi awal 29.

"Artinya kita cuma menang dari Papua, tapi kalah dari Papua Barat, NTT dan Sulawesi Barat. Peringkat dalam lingkup pemerintah dan institusi publik stabil di ranking 16," ujarnya.

Wali Kota Pontianak dua periode ini menjabarkan setelah membqca data-data hasil penelitan tersebut kelemahan Kalbar berada pada pelayanan dasar dan infrastruktur.

Kedepan ia meminta DPRD Provinsi dan pihak lainnya harus melihat pelayanan dasar dan infrastruktur adalah hal yang sangat penting.

Pelayanan dasar meliputi pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya harus menjadi lebih prioritas dalam pembangunan Kalbar.

Baca: Kediaman Jamaah Haji Mempawah Yang Meninggal di Tanah Suci Ramai Dikunjungi Warga

"Saat ini katanya Kalbar potensi defisit Rp600 miliar tapi saya anggapnya itu rill ya, lalu memotong belanja langsung sebesar 30 persen itukan belanja pembangunan maka akan membuat Kalbar semakin terpuruk ini dalam segala hal. Bisa bisa kalau lihat angkanya kalau tidak hati hati tahun depan bisa ranking terakhir ini terkait pembangunan infrastruktur," ujarnya.

Midji yakin lembaga yang melakukan survei bukan lembaga yang bisa dipengaruhi. Data-data yang dihasilkan oleh NUS dapat dijadikan referensi dalam pembangunan kedepan. Sebagai Gubernur Kalbar terpilih yang diperkirakan akan dilantik tanggal 17 September 2018 mendatang, ia sebut data itu akan menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan.

Ia jabarkan banyak sekali kelemahan yang ada di Kalbar, pertama angka partisipasi sekolah menengah pertama (SMP) minus 0,68 kemudian akses internet dan telepon genggam minus 0,7. IPM k minus 0,7 kemudian jumlah Rumah tangga dengan jaringan pipa air itu minus 1,3. Kualitas infrastruktur fisik ini paling parah minus 1,7. Kemudian rasio penduduk per pekerja medis minus 4,7, rasio penduduk per fasilitas kesehatan 4,9, angka partisipasi sekolah menengah minus 1,0.

Ia khawatir sama dengan kondisi Kalbar saat ini, terlebih melihat data yang yang dihasilkan lembaga yang cukup menjadi rujukan di Asia ini (NUS).

Apabila data-data tersebut dibaca investor maka akan berat mereka masuk di Kalbar. Ia sadar untuk membalikkan ini perlu kerja keras dan tidak gampang.

Baca: Kunci Kulit Wajah Cantik Tanpa Makeup, Perawatan Ini Bisa Anda Praktekan!

"Tidak bisa 2-3 tahun, perlu kerja keras dan perlu orang orang yang bisa mengimplementasikan kerjanya. Kalau tidak bisa jangan paksakan begitu, ini kelemahan ada pada Bappeda," sebutnya.

Seharusnya data semacam ini harus diekspos kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sehingga mulai dari penyusunan kebijakan sudah dapat membuat bagaimana menyelesaikan variabel ini

Sebagai gubernur terpilih langkah yang akan diambil setelah dilantik nanti, ia memastikan semua program yang di APBD harus mengarah pada penyelesaian masalah.

"Nah kita pergi ke luar negeri tapi kita sendiri amburadul. Saya tidak akan rekomendasi ke luar negeri dalam bentuk apapun kecuali itu program yang berkaitan dengan pusat. Data ini parah sekali, skor yang didapat parah betul, kita malu dengan keadaan seperti ini," pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved