Diskriminasi Dalam Dunia Kerja, Ini Saran dari Motivator

Dunia kerja juga kental dengan diskriminasi dan berbagai hal lain yang sekiranya kamu lemah, kamu nggak akan kuat bertahan.

Diskriminasi Dalam Dunia Kerja, Ini Saran dari Motivator
Net
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Banyak yang bilang bahwa dunia kerja itu kejam, mungkin sama kejam nya dengan Ibu Kota.

Selain persaingan yang keras dan seleksi yang ketat, dunia kerja juga kental dengan diskriminasi dan berbagai hal lain yang sekiranya kamu lemah, kamu nggak akan kuat bertahan.

Nah, diskriminasi dalam dunia kerja ini bentuk nya juga macam-macam, tidak hanya diskriminasi gender, suku, agama maupun ras, tetapi juga diskriminasi pendidikan.

Baca: Persiapan Kembali Bekerja Usai Melahirkan

Hal itu dialami sendiri oleh Ali, penanya dalam rubrik Konsultasi Karir Tribun Pontianak minggu ini.

Nah, untuk person yang dialami Ali, kira-kira bagaimana saran dari Motivator Chairul Fuad, simak ulasan berikut ini.

Pertanyaan
Saya seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Di sini saya merasa menghadapi diskriminasi hanya karena perbedaan tempat kuliah dulu. Seringkali rekan kerja yang dulu kuliah di universitas yang lebih mentereng diberi kesempatan lebih banyak daripada saya meskipun saya lebih lama di perusahaan ini. Saya bingung antara bertahan dan keluar dari pekerjaan. Rasanya kalau seperti ini terus karir saya akan stagnant. Mohon saran. Terima kasih.
Ali (27), Pontianak.

Jawaban
Selamat pagi dan semangat pagi
Seperti jawaban untuk pertanyaan yang serupa pada atikel sebelumnya perlu saya sampaikan lagi bahwa persaingan di dunia kerja merupakan hal yang wajar, karena setiap pekerjaan akan terlibat beberapa individu yang memiliki keinginan untuk menjadi “yang paling”. Apakah akhirnya persaingan akan menjadi pendorong atau penghambat karir seseorang tergantung bagaimana orang tersebut memandang atau mempersepsikan sebuah persaingan. Persepsi tersebut selanjutnya dapat menjadi mindset (pola pikir), sehingga sangat mempengaruhi seseorang dalam menyikapi persaingan tersebut. Dalam menghadapi persaingan selayaknya dihadapi mindset yang positif. Jadikan energi power yang menjadikan semangat kerja semakin tinggi. Berkenaan dengan ungkapan Anda tentang faktor penyebab adalah latar belakang perguruan tinggi yang berbeda, perlu dikaji ulang kebenarannya (kaena bisa saja merupakan persangkaan semata). Bila perlu minta klarifikasi atasan. Andaikan kata alasan itu memang benar, inilah saatnya Anda menunjukkan eksistensi diri bahwa tidak selamanya tamatan perguruan tinggi yang tidak favorit akan menghasilkan lulusan yang kurang berkualitas. Tunjukkan dan optimalkan kemampuan Anda, sehingga atasan juga akan terbuka pikiran dan hatinya. Di samping itu hubungan interpersonal dengan atasan dan sesama teman sejawat harus tetap dijalin, karena mereka sangat berarti untuk menjadikan eksistensi kita, sebagai teman sekerja, sebagai pesaing positif, ataupun sebagai supporter bagi sesama. Kita tetap terus mengembangan diri secara positif, tanpa harus menyingkirkan apalagi menjatuhkan orang lain. Di sini dibutuhkan etika profesi atau etika dalam bekerja sehingga hubungan tetap harmonis dan kondusif. Buat orang lain dapat menerima keberadaan Anda (tanpa menyombongkan dan membagakan diri). Kalau pekerjaan itu Anda cintai dan senangi, maka resign bukan merupakan pilihan. Tetap bertahan untuk berkarya dan berkarir dapat tetap menjadi pilihan disertai dengan kesabaran dan upaya diri untuk lebih maju.
Kesimpulannya adalah bahwa eksistensi Anda terjaga, hubungan tetap terjalin. Semua tergantung kepada kemahiran Anda untuk mengelolanya. Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat. Salam optimis.

Penulis: Bella
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help