Sanggar Anak Budaya, Jadi Tempat Berkumpul dan Berproses Bersama Para Penggiat Seni

Sanggar Teater yang ada sejak tahun 2015 itu diinisiasi oleh tiga pemuda, yaitu Anton Priadi

Sanggar Anak Budaya, Jadi Tempat Berkumpul dan Berproses Bersama Para Penggiat Seni
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/BELLA
Sanggar Anak Budaya saat menggelar latihan sebelum pertunjukan Madekur & Tarkeni. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Jika kamu merupakan penggemar Seni Teater di Pontianak dan aktif dalam beragam kegiatan seni pertunjukan itu, nama Sanggar Anak Budaya (SAB) mungkin sudah tidak asing lagi bagimu.

Sanggar Teater yang ada sejak tahun 2015 itu diinisiasi oleh tiga pemuda, yaitu Anton Priadi, Dafi dan Ade Navian yang berasal dari komunitas yang berbeda.

"Kita bertiga awalnya masing-masing punya komunitas yang sudah mandiri, saya melatih teater ketupat, Dafi melatih di SMA Negeri 8, begitu juga dengan Ade punya. Namun masing-masing sudah jalan, tapi kami ingin tetap bisa berproses," kata Anton.

Baca: Kepolisian Gandeng Pemda dan Masyarakat Cegah Narkoba Beredar di Sintang

Dalam keadaan itu, mereka sempat bingung mau nimbrung kemana, akhirnya mereka bertiga sepakat bahwa mereka perlu ruang bersama untuk berkesenian.

"Akhirnya kami mengajak kawan-kawan senasib yang juga sudah berproses. Sebagian besar di awal kami merekrut kawan-kawan penari dan melakukan pentas pertama tahun 2016 berjudul Madekur & Tarkeni yang diadopsi dari trilogi orkes madun ," kata Anton bercerita.

Dalam pengalaman pertama menggelar drama musikal dengan kawan-kawan penari ini, Anton mengaku sempat kaget.

"Kita mikir kalau soal tubuh sudah aman karena basic nya mereka adalah penari, namun ternyata soal ekting juga oke," kata Anton.

Meskipun sedikit agak sulit dalam menghafal dialog, namun karena sudah memiliki basic pertunjukan, sehingga dalam hal penjiwaan Anton merasa kawan-kawan penari tidak punya masalah.

Baca: Masyarakat Harap Aparat Negara Dipastikan Bebas dari Narkoba

Tidak hanya membuat gebrakan dengan melalui drama musikal yang menggabungkan tari dan teatrikal, melalui SAB Anton dan teman-teman kembali membuat gebrakan dengan membuat film.

"Kami bikin mini seri film berjudul Kempotnan yang bercerita tentang latar belakang kehidupan masyarakat pesisir di Sungai Kapuas," katanya.

Dengan mengangkat berbagai macam latar belakakng, film Kemponan merupakan sebuah bentuk kampanye budaya dan promosi pariwisata yang dilakukaan oleh SAB.

"Karena kita melihat bahwa Kota Pontianak punya nilai Budaya yang tinggi. Film Kemponan ini bukan soal bagaimana sulitanya mereka (masyarakat pesisir Sungai Kapuas) tapi bagaimana semua yang mereka lakukan itu sudah jadi budaya," kata mantan Wartawan itu.

Isu kedua yang ingin Anton dan kawan-kawan angkat dalam film Kemponan juga adalah soal keberadaan Buaya di Sungai Kapuas.

Film ini juga telah menghantarkan mereka meraih penghargaan sebagai penyaji terbaik, sutrada terbaik dan juga aktor terbaik, yang diberikan oleh Forum Masyarakat Teater Kalimantan Barat.

Penulis: Bella
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved