Dua Akademisi Untan Ini Hadiri Diseminasi IMF-World Bank Annual Meeting 2018

Pertemuan IMF dan World Bank yang diselenggarakan di Bali pada 12-13 Juli 2018, menurutnya dihadiri 189 negara di Bali pada bulan oktober 2018.

Dua Akademisi Untan Ini Hadiri Diseminasi IMF-World Bank Annual Meeting 2018
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Pengamat Ekonomi Prof Eddy Suratman dan Pengamat Politik, Dr. Jumadi. Kedua akademisi tersebut, hadir mewakili Kalbar mengikuti Diseminasi IMF-World Bank Annual Meetings 2018 sebagai regional opinion maker. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kabar membanggakan datang dari akademisi Untan Kalbar, yakni Pengamat Ekonomi Prof Eddy Suratman dan Pengamat Politik, Dr. Jumadi.

Kedua akademisi tersebut, hadir mewakili Kalbar mengikuti Diseminasi IMF-World Bank Annual Meetings 2018 sebagai regional opinion maker.

"Kehadiran kami melihat kesiapan pertemuan Ekonomi dan Keuangan Internasional terbesar dalam sejarah di Indonesia setelah KAA thn 1950 an, APEC tahun 2012," ungkap Dr. Jumadi, Jumat (13/07/2018) melalui rilis tertulisnya kepada Tribun Pontianak.

Baca: Soal Retribusi di Dermaga Speedboat, Ini Kata Kabag Hukum Setda Kayong Utara

Baca: Alumni PGSD UNY Landak dan GGD Landak Turut Beri Santunan Pada Keluarga Dinik

Baca: Dewan Harap Warga Tak Lakukan Aktifitas PETI, Lebih Baik Untuk Lahan Pertanian

Pertemuan IMF dan World Bank yang diselenggarakan di Bali pada 12-13 Juli 2018, menurutnya dihadiri 189 negara di Bali pada bulan oktober 2018.

Dengan peserta sekitar 20.000 peserta di Nusa Dua Bali.

"Kehadiran kami selain mendengarkan penjelasan dari BI dan Depkeu terkait dengan esensi dari Annual Meetings tersebut, dan kita juga memberikan masukan agar pertemuan internasional tsb memberikan dampak positif terhadap pembangunan di daerah, terutama terkait dgn pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pariwisata dan mengurangi ketimpangan antar wilayah," terangnya.

Dikatakannya, Kalbar sangat berkepentingan, karena pembangunan infrastruktur dan peningkatan IPM.

"Kita perlu dukungan finansial, baik dari pusat dan lembaga-lembaga internasional," tuturnya.

Keunikan Kalbar yang memiliki kawasan perbatasan darat dan laut, ditegaskannya harus mendapat perhatian khusus lagi dari pemerintah pusat.

"Kita perlu push pembangunan infrastruktur dan SDM dalam upaya meningkatkan daya saing daerah. Posisi Kalbar saat ini yang terendah di regional Kalimantan dan berda diurutan ke 21 secara nasional," tutupnya. (dho)

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help