300 Pengrajin Tenun di Desa Sumber Harapan Hadapi Kendala Pemasaran

Kades Sumber Harapan, Herikusnadi mengungkapkan, ada sekitar 300 perajin tenun yang saat ini aktif memproduksi kain tenun di desanya.

300 Pengrajin Tenun di Desa Sumber Harapan Hadapi Kendala Pemasaran
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ TITO RAMADHANI
Kades Sumber Harapan, Herikusnadi usai menghadiri FGD pengembangan Desa Wisata Tenun Sambas, yang digelar Jejaring Wisata Kalimantan Barat bersama Bank Indonesia, di Kantor Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kamis (12/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Kades Sumber Harapan, Herikusnadi mengungkapkan, ada sekitar 300 perajin tenun yang saat ini aktif memproduksi kain tenun di desanya.

"Kalau yang aktif menenun kurang lebih 300 orang. Itu perajin tenun di desa kami. Itu tersebar di Dusun Semberang 1, Dusun Semberang 2 dan Dusun Solor Medan," ungkapnya usai menghadiri FGD pengembangan Desa Wisata Tenun Sambas, yang digelar Jejaring Wisata Kalimantan Barat bersama Bank Indonesia, di Kantor Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kamis (12/7/2018).

Menurut Heri, kerajinan tenun di desa tersebut, menurutnya memang warisan turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Baca: Salawat dan Haul Akbar Ribuan Masyarakat Padati Ponpes Darrun Naim

Sejak lama, kain songket tenun dari Desa Sumber Harapan memang telah dikenal luas.

"Hanya belum berkembang seperti pada tahun 2008, saya menjadi kades. Karena saya ingin warga saya tidak ke luar negeri, Malaysia. Maka kami menggalakkan tenun kain songket Sambas ini di desa kami. Jadi sekarang tiap rumah di Desa Sumber Harapan ini rata-rata sudah punya alat penenun," jelasnya.

Untuk produksi tenun, walau hampir setiap rumah memiliki alat penenun. Namun menurutnya masih tidak terlalu produktif.

Masih ada kendala yang dihadapi para perajin tenun. Terutama kendala yang dihadapi terkait pemasaran produk kain tenun yang telah jadi.

"Pemasaran, selain itu juga tergantung kualitasnya. Bahan bakunya juga menjadi kendala. Tapi biasanya ada wisatawan dari Malaysia dan Brunei yang berbelanja. Itu yang cukup membantu, hanya sebatas kain tenun. Tapi produk turunannya, itu yang masih susah kami untuk memasarkannya," terangnya.

Selain itu, pihaknya juga banyak terbantu oleh Pemda. Yang menggunakan produk kain cual.

"Kain cual khas Sambas. Pada umumnya kami di sini banyak memproduksinya. Jadi paling utamanya itu pemsaran. Yang lain-lainnya tinggal masyarakat saja lagi. Kalau ada kemauan kuat, saya yakin akan berhasil," urainya.

Pihaknya mengaku sangat terbantu, dengan bantuan dari berbagai pihak yang peduli terhadap pengembangan kain tenun Sambas.

"Terimakasih kepada pihak-pihak yang selama ini sudah peduli membantu pengembangan tenun Sambas. Mudah-mudahan Desa Wisata nanti di desa kami ini, dapat mendorong meningkatnya pemasaran kain tenun. Sehingga memberikan dampak ekonomi yang baik bagi para perajin tenun Sambas," sambungnya.

Sebelumnya diberitakan,
Jejaring Wisata Kalimantan Barat bersama Bank Indonesia, menggelar Focus Group Discussion (FGD) pengembangan Desa Wisata Tenun di Sambas di Kantor Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kamis (12/7/2018).

Tampak hadir, Staf Ahli Bupati Sambas, I Ketut Sukarja. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disporapar) Agus Supardan, kemudian dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Sambas. Politeknik Negeri Sambas (Poltesa), Pemerintah Desa Sumber Harapan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Perajin Tenun, Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sambas.

Penulis: Tito Ramadhani
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help