Potensi Karhutla Sintang Masuk Deretan Daerah Resiko Bencana Tinggi

Kusba menyampaikan bahwa Kabupaten Sintang menjadi salah satu dari 136 Kabupaten/kota

Potensi Karhutla Sintang Masuk Deretan Daerah Resiko Bencana Tinggi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/WAHIDIN
Komandan Kodim (Dandim) 1205/Sintang, Letkol Inf Rachmat Basuki bersama anggota polisi dan manggala agni meninjau langsung lokasi bekas pembakaran lahan yang baru saja dipadamkan di Desa Mekar Sari, Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Sintang, Rabu (11/7/2018) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sintang, Kusba menyampaikan bahwa Kabupaten Sintang menjadi salah satu dari 136 Kabupaten/Kota di Indonesia yang mempunyai indeks resiko bencana tinggi.

"Walaupun Sintang tidak ada gunung berapi, tsunami, gempa bumi dan lainnya. Namun yang mengangkat indikator Sintang menjadi tinggi adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)," ujar Kusba, Rabu (11/7/2018) siang.

Baca: The Boom Pontianak Melaju ke Semifinal Turnamen FFI U-20

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Sintang telah mengambil langkah antisipasi melalui Keputusan Bupati di Januari 2018 tentang Siaga Karhutla. Bahkan status tersebut akan dinaikan jadi tanggap darurat jika banyak terjadi Karhutla.

"Kita lihat seminggu terakhir ini tidak ada hujan dan cuaca panas meninggi. Tentu resiko terjadinya Karhutla juga tinggi. Karhutla sendiri ada yang disebabkan perilaku manusia dan disebabkan oleh alam," tambahnya.

Untuk perilaku manusia, pihaknya sudah mengimbau semua lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan tidak lagi pembakaran lahan. Namun jika ingin tetap membakar, caranya juga harus diatur agar tidak berpotensi Karhutla.

"Kalau untuk kearifan lokal, kita mengatur dengan membakar lahan maksimal dua hektar dan dilakukan bergiliran. Kemudian dilaporkan dengan aparat di desa, sehingga kita minimalisir merembet dan terjadi Karhutla," pungkasnya.

Kemudian di samping perilaku manusia, juga ada yang disebabkan oleh alam. Apalagi di Sintang cukup banyak tanah gambut. Sehingga jika terjadi panas matahari yang tinggi lebih dari dua minggu sangat beresiko.

"Kalau lebih dari dua minggu panas terik, gesekan gambut jadi mudah terbakar. Inilah yang sulit kita antisipasi. Tadi siang saya lihat ada tiga titik hotspot, namun tidak lama sudah hilang. Tapi untuk laporan kita belum ada," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help