Editorial

Asa Perdamaian KTT Trump-Kim

Terima kasih untuk upaya Anda yang tulus kami mampu menyelesaikan persiapan untuk pertemuan puncak bersejarah ini

Asa Perdamaian KTT Trump-Kim
AFP/Saul Loeb
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saling berjabat tangan untuk pertama kalinya di Hotel Capella, Singapura, Selasa (12/6/2018). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - MATA dunia kini sedang tertuju ke Singapura. Dunia menunggu kabar gembira dari pertemuan puncak (KTT) pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump hari ini, 12 Juni 2018.

Keduanya sudah tiba di Singapura Minggu (10/16) pada jam yang berbeda, dan diterima lebih dulu oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Ini adalah pertemuan sangat langka dan bersejarah. Untuk pertama kalinya seorang Presiden Amerika Serikat bertemu dengan pemimpin Korea Utara, yang sama-sama masih menjabat.

Tak heran ada sekitar 3.000 wartawan dari berbagai media massa dari seluruh dunia bakal membanjiri Singapura, yang akan menjadi tuan rumah pertemuan langka.

(Baca: 10 Kapal Asing Berbendera Vietnam Ditangkap )

"Seluruh dunia berfokus pada pertemuan bersejarah antara Korea Utara dan Amerika. Terima kasih untuk upaya Anda yang tulus kami mampu menyelesaikan persiapan untuk pertemuan puncak bersejarah ini," kata Kim setelah bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada Minggu (10/11).

Pertemuan puncak kedua pemimpin negara itu akan menjadi titik awal untuk normalisasi hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat. "Itu (normalisasi hubungan Korea Utara-Amerika Serikat) adalah sesuatu yang saya harapkan untuk terjadi ketika semuanya selesai," ujar Trump seperti dikutip AFP.

Dalam satu pernyataannya pekan lalu, Presiden Trump menyatakan adalah mungkin saja dia dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangi perjanjian yang secara resmi mengakhiri Perang Korea pada pertemuan kedua pemimpin di Singapura hari ini. Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan dia akan mempertimbangkan untuk mengundang Kim mengunjungi AS bila pertemuan tingkat tinggi di Singapura berjalan dengan baik.

Pemimpin Korut, Kim Jong Un juga mengundang Presiden Donald Trump untuk bertemu di Pyongyang Juli mendatang. Undangan Kim ke Trump diungkap dalam laporan harian Korea Selatan, Joongang Ilbo berdasarkan kutipan seorang sumber di Singapura. Presiden Trump saat menerima surat itu tidak mengungkapkan isinya seperti dilaporkan Straits Times, 11 Juni 2018.

Sebelum bertemu Trump, Kim telah bertemu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Zona Demiliterisasi, Desa Panmunjom, Korea Selatan, pada akhir April 2018. Keduanya menandatangani Deklarasi Panmunjom, dimana untuk pertama kalinya pemimpin tertinggi Korea Utara menginjakkan kakinya di zona demilitarisasi wilayah Korea Selatan.

(Baca: Hari Libur Idul Fitri Pelayanan Kepolisian Tetap Seperti Hari Biasa )

Pengamat hubungan luar negeri, Graham Ong-Webb, sebelumnya mengatakan kepada Tempo bahwa ada kemungkinan Trump dan Kim Jong Un mencapai kesepakatan yang lebih besar dari Deklarasi Panmunjom, yang ditandatangani di Zona Demiliterisasi, Desa Panmunjom, Korea Selatan, pada akhir April 2018 silam.

Kita mendoakan pertemuan puncak dua negara yang selama ini berseteru dan berkali-kali saling mengancam akan melakukan serangan itu bisa berlangsung lancar. Targetnya, pertemuan puncak kedua negara itu dapat membantu terciptanya perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea dan wilayah sekitarnya.

Terutama mengenai isu penghapusan program senjata nuklir Korea Utara. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat dan sekutunya membantu Korea Utara menerima insentif diplomatik dan ekonomi. Selama ini Amerika telah mengembargo ekonomi Korut yang membuat negeri itu.

Pertemuan puncak Kim Jong Un-Donald Trump yang memakan biaya sekitar 20 juta dolar Singapura (sekitar Rp208,7 miliar) itu juga membawa harapan datangnya angin perubahan di Korea Utara, yang puluhan tahun menutup diri dari pergaulan dunia. Itu tidak lepas dari sosok Kim Jong Un serta ayah dan kakeknya yang berkuasa di negara tersebut dengan 'tangan besi'..

Sudah lama terjadi ketegangan di kawasan Korea, setelah terbelah menjadi dua negara, Korea Utara dan Korea Selatan, pasca kemenangan Blok Sekutu di dalam Perang Dunia II. Kita berharap momen Lebaran ini akan menjadikan situasi di semenanjung Korea menjadi lebih baik. Tak ada lagi ketegangan. Tercapai perdamaian di Korea akan berpengaruh pada stabilitas di kawasan Asia Pasifik. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved