Buruh Siluman Muncul karena Keserakahan Perkebunan Sawit

Perkebunan Sawit di Kalimantan Barat terus tumbuh dan berkembang tidak terkecuali di Kubu Raya.

Buruh Siluman Muncul karena Keserakahan Perkebunan Sawit
ISTIMEWA
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Try Juliansyah

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Perkebunan Sawit di Kalimantan Barat terus tumbuh dan berkembang tidak terkecuali di Kubu Raya. Perkembangan ini tentu membawa memberbagai dampak, baik positif maupun negatif.

Link-Ar Borneo terus aktif memantau perkembangan perusahaan-perusahaan sawit tersebut, dimana memang disatu sisi perkebunan memberikan lapangan pekerjaan.

Namun disisi lain kesejahteraan buruh di perusahaan sawit tersebut belum diperhatikan dengan layak.

Munculnya pekerja atau buruh siluman satu diantara yang menjadi sorotan Link-Ar Borneo.

Dimana menurut deputi Link-Ar Borneo Ade Irma Handayani buruh siluman ini muncul karena keserakahan pihak perusahaan.

"Ini bermula dari buruh lepas harian (BLH) yang dua sampai tiga tahun juga tak diangkat. Itu rata rata buruh perempuan, laki-laki juga ada tapi mayoritasnya perempuan," ujarnya

Kemduian BLH ini diberikan target oleh perusahaan untuk mendapatkan penghasilan yang telah ditetapkan. Dan biasanya menurut dia upah tersebut jauh dari kata layak.

"Kalau di daerah yang kami temui mayoritas orang setempat, kalau dari luar biasa ikut suami, dia di camp.
Itu lebih sadis lagi mereka, karena suami ada target, mau tak mau dia bawa istri dan anak untuk ikut, tapi yang dibayar suami saja," katanya.

Sementara untuk Anak dan istri tak dibayar karena menurut dia intinya memenuhi target kerja suami. Inilah yang menurutnya sebagai buruh siluman atau invisible worker.

Halaman
12
Penulis: Try Juliansyah
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help