Ramadan 1439 H

Agar Tak Hilang, Tanamkan Nilai-Nilai Ramadan Dimulai Pada Keluarga

Oleh karena, nilai-nilai selama ramadan ini mesti terus dipertahankan, minimal diterapkan dilingkungan keluarga dan dimulai dari diri sendiri.

Agar Tak Hilang, Tanamkan Nilai-Nilai Ramadan Dimulai Pada Keluarga
TRIBUNWOW.COM
Marhaban Ya Ramadan 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Zulkifli

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Akhir Ramadan sejatatinya membuat peribadi yang semakin berkualitas. Jangan sampai penempaan selama ramadan, berakhir sia-sia ketika memasuki bulan syawal.

Oleh karena, nilai-nilai selama ramadan ini mesti terus dipertahankan, minimal diterapkan dilingkungan keluarga dan dimulai dari diri sendiri.

Baca: Gelar Bakti Ramadan, DPD KNPI Kabupaten Mempawah Santuni Puluhan Anak

Baca: Temuan 56 Kerangka Anak-anak Ini Ungkap Realita Tragis Peradaban Kuno Chimu 600 Tahun Silam

Ustaz Didi M Nur Haris, menjelaskan ramadan yang sebentar lagi akan berakhir merupakan momentum penempaan untuk memperbaiki kualitas diri, untuk menjadi insan yang bertakwa.
"Ketakwaan itu tidak hanya hubungan kita dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama," ujarnya, Senin (11/6/2018)

Ketua Ikatatan Da'i Indonesiab (IKADI) Kalbar ini menjelaskan ramadan sejatinya meningkatkan ketakwaan, baik dari sisi terhadap Allah dan sesama manusia ini. Ketakwaan ini mengacu pada nilai spritual.

Baca: Gagal Ginjal Paling Mematikan di Dunia! 8 Tips Sederhana Ini Pastikan Ginjal Anda Sehat

"Misalnya dengan salat puasa, baca Alquran, iktikaf. Kalau kita tidak mempunyai sisi spritual bisa hancur. Manusia akan dikuasai nafsu dan akan muncul kezaliman," ungkapnya.

Kemudian yang kedua, Ramadan menempa sisi sosial manusia. Dibulan Ramadan Muslim dianjurkan untuk memperbanyak infak, sadakah, zakat, hingga memberi makan orang berbuka.
Oleh karena itu setelah mendapatkan, penempaan selama Ramadan jangan sampai setelah masuk bulan syawal, nilai-nilai yang telah dilaksanakan hilang begitu saja.

"Jangan sampai latihan selama satu bulan, hilang dalam satu hari," ujarnya

Dijelaskanya tidak membekasnya, penempaan di bulan ramadan ini dikarenakan berbagai faktor,

"Pertama di antaranya kita selama ini mungkin masyarakat kita ketika melaksanakan amalan, hanya sekedar ikut-ikutan. Kurang dimaknai,dipahami dan di resapi. Ibadah tidak hanya sekedar gerakan, puasa tidak sekedar lapar dan haus. Tapi ada target utama. Hal ini juga tidak disadari kerena kurangnya ilmu," jelasnya.

Kemudian faktor kedua yakni faktor lingkungan. Seseorang setelah Ramadan mesti mencari komunitas yang menjaga nilai-nilai ibadah ramadan.

Jangan sampai selepas ramadan bubar lagi. Ini tantangan kita. Oleh karena itu ninimal kita mulai dari lingkungan keluarga dan dimulai dari diri sendiri," pungkasnya. 

Penulis: Zulkifli
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help