Buka Puasa Bareng Jurnalis, CEO Perkebunan Sinar Mas Paparkan Komitmen Traceability

Pada 2016 luasan kedelai mencapai 121 juta ha, rapeseed 33,6 juta ha, sawit 20,23 juta ha. Namun tidak ada protes dari LSM

Buka Puasa Bareng Jurnalis, CEO Perkebunan Sinar Mas Paparkan Komitmen Traceability
TRIBUN PONTIANAK/NINA SORAYA
CEO Perkebunan Sinar Mas Susanto saat berdiskusi dengan jurnalis, Rabu (6/6/2018) 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Nina Soraya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Perkebunan Sinar Mas menujukkan komitmennya untuk menuju sistem keterlacakan (Traceability) minyak kelapa sawit dari kebun ke pabrik pengolahan kelapa sawit. Selain itu pula, komitmen agar setiap kebun milik Sinar Mas harus mengantongi sertifikat RSPO.

Hal ini diungkapkan CEO Perkebunan Sinar Mas, Susanto saat buka puasa bersama jurnalis Pontianak, Rabu (6/6/2018).

"Kalau traceability, maka buah-buah sawit yang dihasilakan itu akan ketahuan dari pohon yang mana, lalu ketahuan pula itu pohon cara tanam gimana. Tak hanya itu, bahkan lahan tempat pohon tumbuh akan ketahuan apa itu ditanam di lahan konflik atau bukan, di lahan hutan atau bukan, di lahan HCV atau bukan. Nanti akan seperti itu cara kerjanya," kata Susanto.

Di kesempatan tersebut, ia juga ikut menjawab beberapa tudingan terhadap sawit yang dihembuskan Uni Eropa (UE) hingga melahirkan putusan penghentian penggunaan biofuel berbahan dasar kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan pada 2021.

Kecenderungan kebijakan untuk menghilangkan kelapa sawit dari program biofuel sebagai sumber energi terbarukan, justru malah untuk melindungi kebijakan perdagangan

Hal ini bahkan dituliskan seorang Arif Havas yang merupakan alumnus Harvard Law School yang kini menjabat Dubes RI di Jerman. Menurut Arif Havas, lanjut Susanto bahwa alasan deforestasi di Indonesia disebabkan oleh sawit sehingga Eropa memandang sawit dari Indonesia ini tidak menerapkan sistem berkelanjutan (sustainability) dan harus dilarang sebagai bahan minyak nabati di Eropa.

Fakta yang Arif Harvas sampaikan adalah pertama, laporan UE sendiri menyatakan, penyebab deforestasi tertinggi adalah peternakan, yaitu 24 persen, kedelai (5.4), jagung (3.3), sawit (2.5). Peternakan sapi, kambing, domba dan babi di UE adalah 335 juta ekor. Di Indonesia hanya 59 juta atau 18 persen dari jumlah di UE. Namun tidak ada gerakan anti-peternakan di PE.

Masih ditulisakan oleh Arif Harvas adalah fakta kedua, data industri Eropa dan AS menunjukkan perluasan pertanian kedelai, rapeseed dan bunga matahari lebih masif daripada sawit.

Pada 1965, terdapat 25,8 juta hektar (ha) kedelai, 7 juta ha rapeseed, 7,5 juta ha, bunga matahari, dan 3,6 juta ha sawit. Pada 2016 luasan kedelai mencapai 121 juta ha, rapeseed 33,6 juta ha, bunga matahari 24,69 juta ha dan sawit 20,23 juta ha. Namun tidak ada protes dari LSM lingkungan hidup UE, apalagi dari Indonesia.

Halaman
12
Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help