Home »

News

» Sains

Dikecam Atas Pembantaian 122 Paus Minke Bunting, Jepang Malah Akan Tangkap 4 Ribu

Tak hanya itu, bagian tubuh dan organ ditimbang menggunakan timbangan gantung elektronik dan pengukuran tengkorak diambil

Dikecam Atas Pembantaian 122 Paus Minke Bunting, Jepang Malah Akan Tangkap 4 Ribu
Leaarne Hollowood
Sekitar 150 ekor ikan paus terdampar di Hamelin Bay, 315 kilometer di selatan Kota Perth, Australia Barat, Jumat (23/3/2018) pagi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JEPANG - Kapal-kapal penelitian Jepang menewaskan sekitar 333 paus minke Antartika selama perburuan tahunan pada musim panas tahun lalu.

Kabar buruknya, 122 di antaranya merupakan paus induk yang sedang bunting.

Dalam laporan yang dirilis oleh Komisi Penangkapan Paus Internasional (ICW), ekspedisi tersebut dilakukan untuk "penelitian ilmiah".

Tak hanya itu, kapal-kapal ini juga melakukan pembantaian terhadap 114 paus anakan (belum dewasa). 

Baca: Israel Gempur Hamas Disaat Ribuan Warga Palestina Hadiri Pemakaman Paramedis Perempuan

Menurut laporan tersebut, para peneliti melakukan ekspedisi untuk mendapatkan data tentang usia, ukuran, dan isi perut paus minke di Laut Selatan antara Australia dan Antartika.

Ekspedisi tersebut melibatkan penembakan paus dengan tombak granat, yaitu metode pembunuhan kontroversial yang menghasilkan kematian instan.

Selanjutnya, paus yang dibunuh diangkut ke atas kapal dan peneliti memotongnya ditempat. Meski mendapat kecaman internasional, Jepang bersikeras melakukan perburuan paus musim panas tahunan.

Dirangkum dari The Sydney Morning Herald, Selasa (29/05/2018), Jepang mengklaim bahwa mereka harus mendapatkan isi perut ikan paus "untuk memperkirakan komposisi dan konsumsi mangsa".

Ketebalan lemak, berat, dan lingkar perut konon diperlukan untuk mempelajari kondisi gizi hewan.

Tak hanya itu, bagian tubuh dan organ ditimbang menggunakan timbangan gantung elektronik dan pengukuran tengkorak diambil menggunakan calliper besar. 

Baca: Hati-hati! 8 Hal Remeh Ini Ternyata Bisa Membunuhmu Lho

Halaman
12
Editor: Rihard Nelson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help