Kaca Seribu di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Ini Asal Usulnya

Kemegahan Istana Kadriah yang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur masih dapat dirasakan hingga kini.

Kaca Seribu di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Ini Asal Usulnya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Jurnalis Tribun dan jurnalis Radio Sonora saat berkunjung ke Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Rabu (30/5/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Zulkifli

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sejarah masuknya Islam di Pontianak tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Kesultanan Pontianak. Istana Kadriah menjadi satu dari 3 bukti fisik, peninggalan bersejarah tersebut. Tribun berkesempatan berkunjung dan masuk ke dalam Istana, untuk melihat sejumlah barang antik Istana. Apa saja ?

Kemegahan Istana Kadriah yang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur masih dapat dirasakan hingga kini.

Saat memasuki komplek Istana dua meriam terpajang di muka gerbang yang bercatkan kuning, seakan menyambut kedatangan pengunjung.

Baca: Ribuan Umat Islam Bersholawat di Halaman Istana Kadriah Pontianak

Saat masuk ke komplek Istana, tentu nuansa tak lagi sama kala kerajaan Islam di Kalbar tersebut dimasa jayanya. Disisi kiri dan kanan, sudah dipadati pemandangan rumah warga.

Tepat dimuka Istana kembali pengunjung akan disambut dengan, sebuah meriam berukuran pendek.
Masuk dalam Istana sebagian kecil peninggalan Kesultanan dari beberapa era, masih dapat dilihat langsung.

Pertama, yang cukup menarik perhatian yakni Kaca Seribu. Kaca tersebut terpajang diruang utama singgasana raja. Kaca tersebut saling berhadapan dari sisi kanan dan kiri.

Dijuluki kaca seribu karena setiap orang yang berkaca akan memantulkan lebih satu bayangan orang atau benda.

Sekretaris Sultan Pontianak, Muhammad Donny Iswara mengatakan, pada era saat itu, kaca menjadi perhiasan yang bernilai tinggi dijama raja-raja.

"Kalau dulu emas intan berlian itu sudah menjadi aksesoris biasa. Nah yang menjadi hadiah cukup mewah dan pristise di kalangan raja kala itu yakni kaca," ujarnya kepada Tribun Rabu (30/5/2018)

Pada era Kesultanan dulu, Prancis satu di antara negara atau bangsa yang menjadi kiblat bagi karya seni maupun barang antik sampai dengan saat ini. Dan Prancis pada masa Sultan Hamid I dan Sultan Yusuf, Prancis memberikan hadiah kaca seribu tersebut.

Sebagai barang mewah cermin tersebut diletakan di ruang singgasana raja. Dulunya ruang singgasana raja tidak banyak terpajang foto seperti saat ini. Hanya ada cermin dan lukisan.

"Bahkan dulunya tidak hanya cermin seribu tetapi masih banyak cermin antik lainya," imbuhnya.

Kondisi kaca seribu saat ini masih dalam kondisi baik dan menjadi objek berfoto bagi pengunjung Istana.

Penulis: Zulkifli
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help