Ritual Nyolat Borohon, Penghormatan Bagi Bahen Ofang Sosok Pahlawan Masyarakat Sintang

Pengurus Adat Rabab Esus menjelaskan bahwa Nyolat Borohon merupakan upacara menghantarkan arwah leluhur untuk sampai ke surga.

Ritual Nyolat Borohon, Penghormatan Bagi Bahen Ofang Sosok Pahlawan Masyarakat Sintang
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Upacara adat Nyolat Borohon Dayak Udanum dari Kabupaten Sintang pada perhelatan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-33 di rumah Radakng, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (21/5/2018). PGD yang dijadwalkan berlangsung sejak 20-24 Mei 2018 ini menggunakan adat Dayak dari Kabupaten Sintang. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK,PONTIANAK- Untuk menghormati kepergian almarhum Bahen Ofang, sosok yang pernah berjasa menyelamatkan nyawa perwira TNI-AD, maka pihak keluarga menggelar ritual adat Nyolat Borohon di Rumah Radakng Pontianak pada Senin (21/05/2018).

Pengurus Adat Rabab Esus menjelaskan bahwa Nyolat Borohon merupakan upacara menghantarkan arwah leluhur untuk sampai ke surga.

Baca: Lomba Melukis Perisai Dalam Pekan Gawai Dayak ke-33 Angkat Tema Tenun Ikat Sintang

”Bagi masyarakat Dayak Udanum Sintang, roh orang meninggal masih gentayangan di bumi, sebelum sebelum keluarganya melakukan upacara Tiwah atau Nyolat. Kalau Tiwah dilakukan selama tiga hari berturut-turut, tapi kali ini kita melaksanakan nyolat dodohon, karena cukup digelar satu hari saja tanpa menghilangkan maknanya, “ kata Rabeb.

Baca: Foto-Foto Keseruan Lomba Pangkak Gasingk di Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-33 di rumah Radakng

Sementara almarhum Bahen sendiri merupakan tokoh masyarakat Sintang yang berasal dari Dahtah Dalung, Pipin, Kecmatan Momaluh, Kabupaten Sintang yang meninggal di Pontianak pada 20 Maret 2000.

Dalam sebuah buku Karya L. H. Kadir berjudul Peletak Dasar Penataan Wilayah Kalimantan Barat diceritakan bagaimana sosok seorang Bahen yang semasa hidup Aktif di Tentara Nasional Angkatan Darat ( TNI AD).

Ia pernah melakukan aksi heroik dengan menyelamatkan nyawa seorang Pangdam XII/Tanjungpura Brigadir Jendral TNI Antonius Josep Witono Sarsanto dalam kecelakaan helikopter di Bengkayang 29 Mei 1969.

Dalam peristiwa itu, ketika akan mendarat mesin pesawat mengalami masalah dan ketika menyadari ada yang tidak beres Ofang segera merangkul paksa Brigjen Antonius dan menjatuhkan diri dari ketinggian sekitar empat meter.

Sementara helikopter kemudian terbang tidak terarah dan meledak, sehingga dua orang di dalam pesawat yang tidak dapat menyelamatkan diri yaitu Pilot Kapten I Subagijono dan Adjudan Pangdam Tjapa Soenarjo tewas seketika.

Peristiwa tersebut kemudian memperkuat dugaan sabotase di dalam tubuh kodam XII/Tanjungpura yang kemudian melakukan pembersihan dalam kalangan interna.

Peristiwa itu juga yang mendorong penumpasan Partai Grilia Rakyat Sarawak (PGRS) dengan ditembaknya S.A.Sofian oleh Tim Kala Hitam Kopassanda TNI-AD di Sungai Kelabu, Kecamatan Terentang , Kabupaten Kubu Raya 12 Januari 1974.

Penulis: Bella
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved