Peringati Hari Bumi, Gelar Bersih-bersih di Hutan Kota Ketapang

Yayasan Palung bersama Sispala di Kabupaten Ketapang menggelar bersih-bersih di Hutan Kota, Minggu (29/4/2018).

Peringati Hari Bumi, Gelar Bersih-bersih di Hutan Kota Ketapang
IST
Suasana bersih-bersih di hutan kota Ketapang 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Yayasan Palung bersama Sispala di Kabupaten Ketapang menggelar bersih-bersih di Hutan Kota, Minggu (29/4/2018).

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Bumi.

Petrus Kanisius dari Yayasan Palung mengatakan, mereka bersama-sama membersihkan sampah plastik, botol minuman, juga sisa-sisa makanan.

"Mengingat, di tempat tersebut banyak sampah yang berasal dari pengunjung yang tidak dibuang pada kotak sampah (dibuang sembarangan/berserakan). Kami juga berkesempatan untuk mengambil sampah botol minuman ringan yang dibuang pengunjung ke danau Hutan Kota menggunakan perahu," kata Pit, sapaannya.

Sispala Care, Sispala Repatones, Sispala Kompasta, hingga Perkim LH Ketapang, KPH 1 Wilayah Selatan Ketapang, Relawan RebonK, Relawan Tajam, serta pihak pengelola hutan kota Ketapang  dan Radio RKK ikut ambil bagian.

Baca: Lutfi Juara Catur ECC Kategori SD

Pit mengatakan, pada kesempatan itu juga dilakukan pemasangan papan plang larangan membuang sampah sembarangan.

Juga pemasangan plang larangan ke pengunjung agar tidak memberikan makanan kepada satwa yang ada.

"Kita berharap kedepannya hutan kota dapat bersih dan terbebas dari sampah. Sehingga Huko menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk dikunjungi oleh siapa saja," katanya.

Khusus untuk pemberian makanan ke hewan, dirinya mengingatkan agar tidak dilakukan.

Sebab hal itu sengat berpengaruh pada naluri alamiah hewan dalam mencari makan.

"Menurut keterangan penjaga hutan kota, di Hutan Kota ada 6 kelempiau dan ada puluhan monyet yang sering mengais makanan, kebiasaan karena sering diberikan makanan sehingga kelempiau ataupun monyet sering mencari makanan di tong sampah dan membuat sampah bertebaran kemana-mana," katanya.

"Sejatinya memang satwa-satwa tidak boleh diberikan makanan oleh pengunjung. Biarkan mereka secara nalurinya untuk mencari makan di hutan. Yang menjadi ketakutan adalah mereka akan tergantung pada manusia untuk memperoleh makanan," paparnya.

Penulis: Nasaruddin
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help