TKI Asal Kayan Hulu Meninggal di Malaysia, Wabup Sintang Jemput Kedua Anaknya

Askiman beserta rombongan disambut hangat KBRI di sana. Saat itu, kedua anak tersebut dalam keadaan mengalami trauma yang cukup parah.

TKI Asal Kayan Hulu Meninggal di Malaysia, Wabup Sintang Jemput Kedua Anaknya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ WAHIDIN
Wakil Bupati Sintang Askiman beserta istri mengikuti Upacara Adat Pengangkatan Anak, dua di antara tiga anak yang diangkat adalah anak TKI asal Kecamatan Kayan Hilir yang meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Pada 9 April 2018 kemarin, Wakil Bupati Sintang Askiman beserta Kepala Disnakertrans Sintang Florensius Taha berangkat menjemput dua anak TKI asal Kayan Hulu yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Askiman mengatakan, Ibu dari kedua anak bernama Dahlia Kusuma Tebi (6) dan Haryo Adriano Tebi (5) ini bernama Diana asal Desa Merah Arai, Kecamatan Kayan Hulu yang bekerja sebagai TKI di Malaysia.

Baca: Peserta Penerimaan Polisi Gugur di Rikmin Awal Sub Panda Polres Sintang, Ini Penyebabnya

"Kemudian beberapa waktu lalu, tepatnya di bulan Maret 2018, Pemerintah Kabupaten Sintang mendapatkan surat resmi dari KBRI sana bahwa ada dua orang anak yang dalam kondisi terlantar karena orangtuanya meninggal," ujar Askiman, Senin (16/4/2018) siang.

Baca: Luar Biasa! TKI di Singapura Selamatkan Anak Majikan dari Kebakaran Kapal Pesiar, Ini Kisahnya

Diterimanya surat tersebut, memang terjeda waktu yang lama setelah mayat ibunya dijemput untuk dimakamkan di kampung halamannya pada Mei 2016.

Hal ini dikarenakan kedua anak tersebut sempat tinggal di panti asuhan.

"Ibunya meninggal dikarenakan sakit, dan anaknya dititipkan di panti asuhan di Kuala Lumpur. Kemudian melalui surat tersebut, menjadi perhatian bagi kita untuk menjemput kedua anak ini," tambahnya.

Setelah berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Askiman beserta rombongan disambut hangat KBRI di sana. Saat itu, kedua anak tersebut dalam keadaan mengalami trauma yang cukup parah.

"Kita mengerti dengan situasi anak ini tidak memiliki orang tua. Sementara orangtua laki-laki tidak bisa leluasa mengurusi semua anaknya. Karena mereka menikah tidak tercatat di kenegaraan di sana atau tidak resmi. Oleh karena itu anak ini menjadi warga negara Indonesia," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help