Liputan Khusus

1 Psikiater Tangani 550 Pasien Sakit Jiwa, RSJ Terpaksa Pulangkan Pasien

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Kalimantan Barat di Singkawang betul-betul kekurangan tenaga kesehatan.

1 Psikiater Tangani 550 Pasien Sakit Jiwa, RSJ Terpaksa Pulangkan Pasien
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Satu di antara pasien sedang berbincang dengan dokter untuk mengurus administrasi agar bisa kembali ke rumah di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat, Jalan Raya Singkawang Bengkayang, Kamis (12/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Kalimantan Barat di Singkawang betul-betul kekurangan tenaga kesehatan. Saat ini, hanya ada satu psikiater berstatus PNS yang menangani 550 pasien sakit jiwa atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

"Petugas di rumah sakit sangat kurang. Rumah sakit hanya memilki satu psikiater, delapan dokter umum, satu dokter gigi dan 276 tenaga perawat untuk menangani sebanyak 550 pasien dengan 15 bangsal dan dibagi 3 sif," ungkap Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat di Singkawang Suni kepada Tribun, Kamis (13/4/2018).

Baca: Kabag Ops Bantah Video Warga Kesetrum Terjadi di Semparuk

Idealnya, jelas Suni, satu perawat menangani maksimal tiga hingga lima pasien.

"Bila dikalkulasi sangat jauh kurangnya. Satu bangsal dengan 40 pasien hanya dua hingga tiga perawat, karena terbagi sif pagi, siang dan malam," paparnya.

Pihaknya begitu kesulitan mencari psikiater. Padahal, psikiater merupakan tenaga ahli yang hasil pemeriksaanya menjadi dasar penanganan medis yang diakui BPJS Kesehatan. Jika bukan tujukan atau resep dari psikiater, BPJS Kesehatan tak mau mengakuinya.

"Padahal kita sangat kesulitan untuk mencari tenaga-tenaga psikiater," tuturnya.

Mengatasi hal ini, rumah sakit melakukan MoU dengan tenaga psikiater luar sebagai dokter konsulen. Ada empat orang yang direkut. Dari total 374 pegawai, ada 60 orang tenaga kontrak, sementara sisanya merupakan PNS.
Anggaran RSJ berasal dari APBD Provinsi Kalbar dan Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN. Pihak rumah sakit telah mengajukan beberapa miliar melalui DAK APBN, namun hanya disetujui Rp 1 miliar.

Bila dilihat, banyak sarana dan prasarana yang tak lagi layak. Gedung yang digunakan dibangun pada 1985. Sampai saat ini, gedung belum pernah direhab dan dibangun kembali karena keterbatasan dana.
Padahal RSJ ini melayani pasien dari seluruh wilayah Kalbar. Saat ini saja, ada pasien yang berasal dari Ketapang, Kayong Utara, Sintang, Melawi, Sanggau, Kapuas Hulu dan Pontianak.

Halaman
12
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: listya sekar siwi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help