Editorial

Stop Impor Ikan Makarel

Ini pernyataan yang tidak produktif sebagai seorang pejabat publik yang berkompeten di bidang kesehatan

Stop Impor Ikan Makarel
TRIBUPONTIANAK.CO.ID/WAHIDIN
Dua produk Ikan Makarel yaitu King's Fisher Saus Tomat dan Ayam Brand Ikan Makarel Saus Tomat yang diduga masih ditemukan dijual di salah satu minimarket 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek yang menyatakan cacing dalam produk Ikan Makarel Kalengan tidak berbahaya jika ikan dimasak dengan benar menuai berbagai tanggapan. Apalagi Menkes menyebut cacing mengandung protein sehingga tidak berbahaya.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengkritik keras statemen Menkes tresebut.

"Ini pernyataan yang tidak produktif sebagai seorang pejabat publik yang berkompeten di bidang kesehatan," kata Tulus dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (30/3).

(Baca: Junaidi: Sampai Saat Ini Kantor Go Jek Pontianak Masih Ilegal )

Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani juga menyayangkan pernyataan Menkes. Menurut dia, berdasarkan pernyataan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), cacing tersebut bisa menimbulkan alergi dan sakit perut.

Statemen Menkes dinilai terburu-buru. Karena makanan kaleng yang mengandung cacing, selain menjijikkan dan bisa bikin alergi dan sakit perut tentu tak layak konsumsi. Masih banyak makanan yang sehat dan layak konsumsi.

Supaya tak membuat kegaduhan karena lebih besar mudarat daripada manfaatnya, sebaiknya Indonesia tidak melanjutkan impor ikan makarel. Selain mengandung cacing yang berbahaya bagi kesehatan, impor makarel juga tidak menguntungkan Indonesia secara perekonomian. Apalagi Indonesia memiliki stok ikan yang cukup sebagai bahan baku ikan kalengan.

(Baca: Jadi Korban Penganiayaan Teman, Seorang Santri di Pondok Pesantren Ini Meninggal )

Kasus ini patut menjadi kewaspadaan kita semua, bukan hanya Kementerian Kesehatan ataupun Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Teliti sebelum mengonsumsi makanan berkaleng menjadi prosedur wajib bagi setiap konsumen. Periksa bentuk, warna, dan rasa. Jika ada sesuatu yang aneh atau di luar kebiasaan, lebih baik stop konsumsi.

BPOM telah merilis informasi mengenai temuan 16 produk ikan makarel impor dan 11 produk dalam negeri yang mengandung parasit cacing nematoda. Meski cacing itu dalam kondisi mati, namun dinilai tetap bisa mengganggu kesehatan. Kepala BPOM, Penny Lukito, telah memerintahkan importir dan produsen untuk menarik produk dari peredaran dan melakukan pemusnahan.

Ikan makarel banyak dipasarkan di Indonesia dalam kemasan kaleng. Dua jenis ikan lainnya yang juga banyak dijual dalam kemasan kaleng adalah tuna dan sarden. Kandungan gizi ikan laut ini cukup tinggi dan digemari banyak orang karena selain memang enak, juga praktis dalam pengolahannya.

Kita bersyukur BPOM cepat mengantisipasi peredaran ikan makarel bercacing ini. Meski dari sisi kesehatan tidak sampai mengakibatkan keracunan, namun tetap saja menjadi ancaman karena bisa menyebabkan alergi dan beberapa kondisi kesehatan lainnya. Bagaimana jadinya jika ikan kaleng makarel ini terus membanjiri pasar Indonesia tanpa kita sadari ada cacing yang berkubang di dalamnya.

Kita menunggu gerak cepat dari importir maupun produsen untuk segera menarik produk bermasalah ini. Bahkan, tak perlu menunggu lama, supermarket maupun pusat perbelanjaan yang harusnya lebih dulu bergerak dengan menarik ikan kaleng makarel ini dari pajangan. Jangan sampai masih ada yang terjual dan kemudian dikonsumsi.

Dari kasus ini kita kembali melihat bahwa konsumen selalu pada posisi lemah. Ketika ada produk berbahaya yang terjual, penanganannya hanya penarikan produk dari pasar. Setelah itu persoalan dianggap selesai. Lalu bagaimana dengan konsumen yang sudah telanjur membeli atau bahkan menyantapnya?

Dalam Pasal 19 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen jelas diatur, pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. Ganti rugi dimaksud antara lain bisa berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan lain sebainya. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved