Editorial

Moderasi Arab Saudi

Sesuatu yang belum pernah dilakukan Putra Mahkota Saudi, sejak negara monarki itu berdiri 1932.

Moderasi Arab Saudi
ISTIMEWA
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Di bawah otoritas Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS), Arab Saudi mulai menunjukkan wajah Islam moderat. Ideologi Islam yang sangat konservatif di Saudi, Wahabisme mulai ditinggalkan. Perempuan di sana kini diperbolehkan mengemudi mobil dan bekerja dimana-mana.

Bioskop, konser musik hingga peragaan busana yang pernah dilarang selama puluhan tahun sekarang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Terobosan lainnya selama bulan Maret 2018 ini MBS melakukan lawatan resmi ke negara-negara Mesir (4-6/3), Inggris 7-9/3), Amerika Serikat (19-30/3) dan lanjut ke Perancis (8-10/4), untuk bertemu para petinggi umat Kristiani dan Yahudi di negara-negara itu.

Sebuah terobosan luar biasa secara politik, diplomasi, agama dan budaya bagi seorang putra Mahkota Saudi. Sesuatu yang belum pernah dilakukan Putra Mahkota Saudi, sejak negara monarki itu berdiri 1932.

(Baca: Apa Tujuan Pengujian Kendaraan Bermotor )

Berbagai terobosan itu menunjukkan bahwa MBS saat ini, meminjam istilah Kompas membawa gerbang Arab Saudi "zaman now" atau gerbang Islam moderat, bukan Arab Saudi "zaman old" atau doktrin Wahabi yang dianggap sudah tak relevan lagi.

Putra Raja Salman bin Abdulaziz al Saud itu ingin menyampaikan ke para mitra dan sahabat di luar negeri bahwa inilah wajah masa depan Arab Saudi sesuai Visi 2030.

Moderasi tersebut mendapat dukungan perguruan tinggi di Arab Saudi, satu di antaranya Universitas Islam Madinah (UIM). Pekan lalu, delegasi UIM berkunjung ke kantor Kementerian Agama, Jakarta diterima Menteri Lukman Hakim Saifuddin. Dalam kunjungan itu selain untuk menjalin kerja sama di bidang pendidikan tinggi, UIM juga sepakat untuk menyosialisasikan moderasi Islam.

(Baca: Wow! Asal Diberi Lamborghini Enam Pedangdut Cantik Ini Siap Dinikahi Hotman Paris Sekaligus )

Dilansir Kompas (31/3), dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menyambut gembira Arab Saudi, sebagai pusat sejarah dan sentra umat Islam sedunia yang kerap dijadikan contoh sikap tekstual dalam beragama, telah menemukan satu titik moderasi pada Islam washatiyah atau Islam moderat yang sangat diperlukan pada era modern abad 21.

Dampaknya, kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, tentu positif, baik bagi Saudi sendiri maupun dunia Islam, khususnya Timur Tengah yang selama ini sering dikonstruksi sebagai pusat Wahabi atau berhaluan keras. Muslim Indonesia, yang selama ini di garda depan menampilkan Islam moderat, perlu ikut memperluas proses perubahan di Arab Saudi ke negara-negara lain. Hal ini agar moderasi menjadi arus yang luas luas.

Moderasi yang baru mulai dipraktekkan Arab Saudi, sebetulnya sudah sangat lama diterapkan diterapkan di Indonesia.Perubahan di Arab Saudi, mengutip Ketua Pengurus Besar NU Marsudi Syuhud, justru sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Sekarang, orang menyebutnya moderat. Dahulu Nabi mengajarkan tawasuth, sikap di tengah-tengah. Tidak ekstrim kanan atau kiri.

Sikap tawasuth akan melahirkan tawazun atau keseimbangan dan tasamuh atau toleran. Sikap toleransi tidak hanya kepada non-Muslim, tapi juga harus ditunjukkan kepada sesama Muslim yang berpikiran berbeda. Firqah-firqah (golongan-golongan) banyak, tidak perlu ada yang merasa paling benar.

Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kerja sama keamanan, khususnya kontraterorisme. Ini sesuai komitmen putra mahkota Arab Saudi, MBS sendiri saat membuka pertemuan yang pertama Koalisi Militer Islam melawan terorisme, di Riyadh, Arab Saud, 26 November 2017 silam. MBS mengajak 41 negara anggota Koalisi Militer Islam untuk memegang teguh komitmen memberangus teroris hingga tuntas.

Apalagi, Indonesia dan Arab Saudi kini memiliki kesamaan pandangan terkait moderasi Islam. Kesamaan tersebut bahkan sudah ditandai dengan adanya kesepakatan oleh kedua negera untuk lebih mengedepankan Islam yang moderat, seperti dilaporkan laman Kementerian Agama, Kamis (2/3/2018). Moderasi Islam memang layak dan patut dikedepankan untuk ikut berkontribusi menjaga dan memelihara peradaban dunia. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved