Wacana Poros Ketiga

Semua itu, bisa saja terjadi. Apalagi jika hal itu menguntungkan bagi kubu Jokowi.

Wacana Poros Ketiga
Instagram
Jokowi mendengarkan musik 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Peluang memunculkan calon presiden dari poros ketiga pada Pemilihan Presiden 2019, tampaknya sulit diwujudkan. Tampaknya, pertarungan antara dua kandidat yakni petahana Joko Widodo dan Prabowo Subianto bakal terulang, seperti pada Pilpres 2014.

Joko Widodo yang diusung PDI-P, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Hanura, di atas kertas memang lebih banyak mendapat dukungan.
Jika dilihat dari konfigurasi politik, Jokowi yang didukung lima partai itu, telah mengantongi 52,21 persen kursi di DPR.

Sementara Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, yang baru-baru ini telah diusung partainya untuk maju pada pilpres, tampaknya masih tetap mendapat dukungan dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera.

(Baca: Maksimal Kirim Uang di Kantor Pos )

Satu-satunya peluang untuk menciptakan poros ketiga, tampaknya hanya ada di Partai Demokrat. Partai besutan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono ini, tampaknya masih mencari-cari celah agar dapat memunculkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai kandidat Pilpres 2019.

Namun, belakangan wacana poros ketiga itu menjadi melemah ketika Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberi sinyal dukungan terhadap Joko Widodo pada Pemilihan Presiden 2019. Oleh karena itu wacana pembentukan poros ketiga, di luar kelompok pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto, menjadi mengecil.

Bisa jadi sinyal yang disampaikan SBY itu sebagai upaya untuk merapatkan diri, agar AHY bisa mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden. Semua itu, bisa saja terjadi. Apalagi jika hal itu menguntungkan bagi kubu Jokowi.

Saat ini peta politik di tanah air semakin bergelora. Di luar nama Jokowi dan Prabowo, sebenarnya ada yang disebut-sebut pantas untuk memimpin negeri ini. Sebut saja mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Dr TGH Muhammad Zainul Majdi MA.

Gatot Nurmatyo kini masih menjadi perwira aktif meski nonjob di Mabes TNI. Sedangkan Muhammad Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018.

(Baca: Peringatan Hari Air Dunia ke XXVI, 16 Tim Dragon Boat Meriahkan Festival Sungai Jawi )

Kedua nama terakhir ini ramai digadang-gadang untuk memimpin negeri ini. Sosok mereka dinilai sangat dekat dengan umat Islam. Gubernur NTB adalah seorang yang hapal dan ahli tafsir Alquran. Oleh karena itu, namanya digadang-gadang menjadi sosok alternatif selain sejumlah nama yang muncul dalam konstelasi pemilihan presiden 2019 mendatang.

Sejumlah deklarasi kelompok masyarakat terhadap sosok Tuan Guru Bajang sudah dilakukan, meski belum tampak adanya dukungan dari partai politik yang akan mengusungnya. Namanya pun mendadak booming dan sejumlah kalangan silih berganti mengundangnya untuk menggali paradigma kepemimpinannya maupun sekadar memberikan tausiah.

Nah, dalam rentang waktu yang tersisa yakni hingga pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden pada Agustus 2018, bisa jadi nama alternatif ini dimunculkan. Dan, ini menjadi peluang partai yang belum memiliki kandidat, untuk menciptakan wacana poros ketiga. (*)

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved