Membuka Lahan Tanpa Membakar

melalui revitalisasi ekonomi masyarakat sebanyak 16 paket program seperti pertanian tanpa bakar, peternakan, perikanan dan komoditas unggulan

Membuka Lahan Tanpa Membakar
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Sejumlah siswa dilatih menggunakan nozzle untuk memadamkan kebakaran lahan di SMA Negeri 4 Sungai Raya, Desa Limbung, Kec Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (6/3/2018) pagi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Setiap musim kemarau tiba, berita kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selalu menghiasi berbagai media kita. Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, diperkirakan setiap tahun ada sekitar dua juta hektar hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan yang terbakar. Luas karhutla dua juta hektar tersebut mengakibatkan luas gambut berkurang hingga dapat berdampak negatif pada lingkungan.

Terkait karhutla, Pemerintah Pusat melalui Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG RI) kini fokus melakukan pencegahan kebakaran lahan gambut di beberapa provinsi di Indonesia. Satu di antaranya, Provinsi Kalimantan Barat. Khusus di Kalbar, tindakan restorasi tahun 2017 telah dilakukan melalui beberapa kegiatan.

Kegiatan tersebut menurut Kepala BRG RI, Nazir Foead saat berbicara pada rapat koordinasi pencegahan kebakaran lahan gambut Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018 di Kantor Gubernur Kalbar, Senin (5/3/2018), di antaranya, pembuatan sumur bor sebanyak 100 unit di Kabupaten Kubu Raya dan pembangunan sekat kanal sebanyak 200 unit di Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah.

Kemudian, melalui revitalisasi ekonomi masyarakat sebanyak 16 paket program seperti pertanian tanpa bakar, peternakan, perikanan dan komoditas unggulan. Untuk pencegahan kebakaran gambut, BRG memposkan anggaran tugas perbantuan tahun 2018 Rp 42.305.427.000. BRG akan memaksimalkan peran Tim Restorasi Gambut Daerah sebagai koordinator pencegahan kebakaran lahan gambut.

(Baca: Pol PP Gerebek Kost di Gang Margosari Jalan Ahmad Dahlan, Ini Temuannya )

Berdasarkan pemetaan dari Kementerian Pertanian, ada sekitar 3-4 juta hektare terbuka namun terbengkalai tidak dikelola dengan baik. Ini harus didorong berdasarkan prinsip-prinsip ekologis gambut. Nazir berharap kerjasama berbagai pihak, terutama Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota terkait pencegahan kebakaran lahan gambut.

"Kami juga sudah menjalin kerjasama dengan lembaga luar negeri. Semua tertarik karena jika terbakar dampaknya sangat luar biasa," ujar Nazir.

Ihwal program pertanian tanpa membakar lahan sudah semestinya menjadi kewajiban pemerintah pusat maupun daerah untuk memberikan solusi bagaimana agar masyarakat tidak membukar lahan dengan cara memnbakar. Sebab hal ini masih sering menjadi polemik yang ditemui di lapangan.

(Baca: Kencan dengan Teman Tinder Berujung Maut, Ini Kronologinya )

Apalagi Polda Kalbar telah mengeluarkan maklumat Nomor Mak/02/II2018 tentang kewajiban, larangan dan sanksi pembakaran hutan dan lahan pada 21 Februari 2018. Menurut Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono yang hadir pada rakor tersebut, batasan areal dua hektare tidak berlaku di Kalbar, namun hanya berlaku di Kalimantan Tengah. Terhadap pelaku pembakaran lahan itu, kata Didi, pihaknya tak segan-segan menindak.

Untuk solusinya, Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead memberikan beberapa opsi kepada masyarakat bagaimana cara membuka lahan tanpa harus membakarnya. Misalnya, pembukaan lahan tanpa bakar seperti dilakukan Kalteng melalui dekomposer dan campuran bahan lainnya. Caranya dengan memberi larutan biologis, organik, bakteri sebagai pengurai dekomposisi. Dalam tiga minggu lahan sudah bersih.

Opsi lainnya yakni membuka lahan dengan menggunakan alat berat. Namun ini membutuhkan banyak biaya. Berikutnya, masih menggunakan pembakaran. Hanya saja tanaman yang telah kering tidak dibakar di lahan terbuka itu, namun di dalam drum besar. Setelah kering, taruh dalam drum bakar, lalu tutup pakai cerobong asap, sehingga asapnya minimal. Tapi ini butuh waktu satu bulan baru bersih.

Manfaat yang dapat dirasakan adalah dalam jangka panjang pembukaan lahan tanpa pembakaran akan menjamin kesinambungan secara ekonomi dan ekologi, dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan yang akan berdampak langsung kepada produksi tanaman akan mengalami penurunan. Selain itu bermanfaat pula untuk pemulihan kualitas lingkungan yang berbasis pembangunan berkelanjutan. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved