Pontianak Tak Layak Huni, Denia: Mungkin Warga yang Disurvey Kurang Piknik

Survei terhadap 26 kota di Indonesia dengan 100-200 warga yang disurvey menetap di kota tersebut membuat kecewa berbagai pihak...

Pontianak Tak Layak Huni, Denia: Mungkin Warga yang Disurvey Kurang Piknik
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalbar, Denia Yuniarti Abdussamad 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Hasil survei yang dikeluarkan oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia terhadap indeks kota layak huni di Indonesia menempatkan Kota Pontianak sebagai kota nomor 1 di antara kota yang paling tidak layak huni.

Survei terhadap 26 kota di Indonesia dengan 100-200 warga yang disurvey menetap di kota tersebut membuat kecewa berbagai pihak tak terkecuali pengusaha Kalbar.

Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalbar, Denia Yuniarti Abdussamad mengatakan menurut kacamata Denia sebagai pengusaha, survey yang disampaikan Ikatan Ahli Perencana (IAP) tidak valid.

Baca: Pontianak Disebut Tak Layak Huni, Dirut PDAM Tirta Khatulistiwa Beberkan Fakta Ini

Kemungkinan kata Denia, yang disurvey oleh IAP merupakan warga Kota Pontianak yang kurang bahagia.

"Saya rasa sebagai pengusaha, apa yang disampaikan dari survey tidak valid. Karena mungkin yang disurvey merupakan warga Kota Pontianak yang kurang piknik, mungkin belum diberikan kesempatan jalan-jalan ke provinsi lain," ujar Denia kepada Tribun Pontianak, Jumat (2/2/2018).

Denia menilai jika warga Kota Pontianak sering berkunjung ke kota atau provinsi lain, ia yakin warga Pontianak akan merasakan bahwa Kota Pontianak jauh lebih baik. Bahkan menurutnya Kota Pontianak merupakan kota terbaik dari lima ibu kota provinsi di Kalimantan, Pontianak terdepan.

"Bisa dilihat dari tata kota, keramaian, happening, hiruk pikuk dan sebagainya. Bagi kami dari kacamata pengusaha, kota perdagangan dan jasa ini selalu hidup. Makanan, kuliner, apapun yang dijual laku. Warkop bisa sampai pagi penuh, apakah ada tempat lain seperti itu, tidak dan hanya di Pontianak," ujarnya.

Jika penilaian dari suhu udara, kemungkinan kata Denia bisa berpengaruh karena terletak di garis khatulistiwa sehingga tidak nyaman bagi pendatang. Namun baginya tidak ada masalah, apalagi bagi warga Pontianak yang sering melakukan kunjungan ke tempat lain.

"Saya sangat bangga menjadi keluarga besar Kalbar dan lahir di Pontianak. Menurut saya survey tersebut sangat tidak valid, kami sangat kecewa (survey) karena bagi kami pengusaha itu bisa mempengaruhi iklim investasi. Coba liat, hotel berjejer, makanan lengkap, perdagangan dan jasa hidup, macet jauh dari Jakarta dan sangat layak huni, sampai pagi kotanya hidup," tegasnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help