Diplomasi Peci Presiden Jokowi

Apalagi kunjungan Jokowi ke Kabul dilakukan di tengah suasana duka usai serangan bom yang menewaskan 103 orang pada Sabtu pekan lalu.

Diplomasi Peci  Presiden Jokowi
Jokowi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Presiden Joko Widodo baru saja mengakhiri kunjungan kenegaraan ke lima negara di Asia Selatan, mulai 24 hingga 29 Januari. Kelima negara tersebut adalah Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, India, dan terakhir ke Afghanistan. Alasan kunjungannya ke kawasan Asia Selatan, karena ingin memberikan sebuah keseimbangan.

Sudah semestinya kawasan di Timur Tengah dan kawasan Asia Selatan mendapatkan perhatian khusus. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menginginkan hubungan antarnegara kawasan itu lebih dekat lagi. Karena merupakan sebuah kekuatan politik negara kita di dalam kancah persahabatan global dengan negara-negara yang lain.

Apalagi hubungan Indonesia dengan negara-negara tersebut sangat historis. Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, Presiden pertama Republik Islam Pakistan, Muhammad Ali Jinnah memberikan dukungan penuh. Pun demikian dengan Sri Langka dan Bangladesh ada hubungan dekat dengan Indonesia. Selain mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, pemimpin kharismatik India Jawaharlal Nehru, dan Soekarno memotori berdirinya Gerakan Non-Blok dalam Konferensi Asia Afia di Bandung tahun 1050.

(Baca: Berpakaian Seksi, Wanita Ini Nyanyikan Lagu Pelakor Ganas Ada Dimana-mana )

Namun dari kunjungan ke negara-negara tersebut, kunjungan ke Afghanistan paling menyedot perhatian dan memberikan makna mendalam. Meskipun bukan berarti kunjungannya ke empat negara lainnya tak menarik dan tidak sarat makna.

Presiden Jokowi disambut bak tamu agung dalam kunjungannya ke Kabul, Afghanistan. Ini adalah kunjungan presiden Indonesia pertama ke Afghanistan setelah 57 tahun. Terakhir adalah Presiden Sukarno yang menyambangi Kabul pada 1961.

Jokowi mendapat penghormatan khusus, menjadi imam dalam salat zuhur, dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sebagai jemaahnya. Momen keakraban Presiden Jokowi dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani terlihat di video yang beredar, saat sekitar dua shaf salat dengan imam Jokowi, penuh terisi dengan rombongan pejabat dari Indonesia dan Afghanistan.

Kehangatan dua pemimpin itu mendapat pujian dari politisi senayan. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyebut kesempatan Presiden Jokowi mengimami salat di masjid Istana itu merupakan langkah yang luar biasa. "Satu hal yang luar biasa, Presiden RI ada yang kedua kali datang ke Kabul, Afghanistan dan jadi imam, dan melakukan fungsinya dengan baik," kata Hidayat di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (30/1).

Bukan hanya soal Jokowi mengimami Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Namun, ada juga pembicaraan soal peci hitam yang dikenakan Jokowi selama kunjungan, yang ternyata dihadiahkan kepada Ashraf. Sementara Ashraf memberikan longi, topi panjang menjuntai, untuk Jokowi yang juga langsung dipakai saat mengimami salat berjamaah.

Juru bicara bicara Presiden RI, Johan Budi, mengaku tak mengetahui secara detail alasan Jokowi memakai peci hitam hanya saat berkunjung di Afghanistan. "Peci hitam itu kan simbol bangsa kita, Indonesia kan di luar (negeri) itu peci hitam menjadi simbol, diplomasi peci," kata Johan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (30/1). Seperti diketahui, pemakaian peci hitam telah menjadi salah satu kekhasan bangsa Indonesia.

Apalagi kunjungan Jokowi ke Kabul dilakukan di tengah suasana duka usai serangan bom yang menewaskan 103 orang pada Sabtu pekan lalu.

Walau suasana masih mencekam, kunjungan Jokowi yang berlangsung selama enam jam itu berjalan aman. Tragedi 'perang' tak berkesudahan di Afghanistan bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Diplomasi peci ke Afghanistan mengandung makna mendalam. Bahwa pertikaian dalam negeri, apapun alasan dan sebabnya, entah itu SARA, antarklan, antar aliran serta politik, hanya akan menghancurkan negeri.

Di sisi lain, Indonesia sangat bersimpati kepada Afghanistan yang masih harus terus berjuang keras menyelesaikan konflik antar etnis dan aliran politik mereka. Kita berharap persoalan mereka cepat selesai. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved