TribunPontianak/

Tumbuh Hanya 1 Persen, OJK; BPR Belum Sesuai Harapan

Namun teknologi kata Riezky memang memakan biaya, tetapi jika BPR bisa memiliki IT yang bagus maka BPR akan bekerja dengan lebih efisien.

Tumbuh Hanya 1 Persen, OJK; BPR Belum Sesuai Harapan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MASKARTINI
PLT Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalbar, Moch Riezky F Purnomo 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - PLT Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalbar, Moch Riezky F Purnomo mengungkapkan secara umum perkembangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kalbar tidak sesuai dengan target OJK.

Data per Oktober 2017 kata Riezky mencatat pertumbuhan BPR di Kalbar hanya berkisar 1 persen.

Namun Riezky mengatakan yang cukup menggembirakan yaitu pertumbuhan dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), pertumbuhannya terutama di tabungan tumbuh hingga 11 persen.

Angka ini cukup fantastis, namun secara keseluruhan pertumbuhannya hanya 6 persen karena pertumbuhan deposito ternyata sekitar 4,5 persen.

Baca: Pergerakan Penumpang 2017 Meningkat 20 Persen, AP II Target Pembangunan Runway Selesai 2019

"Belum sesuai harapan, memang data sampai Oktober tapi biasanya juga dengan data yang tersisa hingga Desember tidak akan jauh berbeda. Tapi jika kita melihat data pertumbuhan DPK artinya dana murah meningkat, harapan kita tingkat suku bunga kredit bisa turun. Ini kabar yang cukup baik mengingat saat ini BPR memberikan bunga cukup tinggi kepada masyarakat," ujar Riezky pada Jumat (12/1/2018).

Baca: Wah, 2018 Bandara Internasional Supadio Pontianak Bakal Tambah Rute Internasional

Harapan Riezky dengan terhimpunnya DPK, bunga kredit bisa ditekan di angka 5 persenan. "OJK Belum lama ini keluar aturan IT terbaru, kita ingin BPR memiliki teknologi yang bagus. Sehingga keamanan nasabah menjadi lebih baik agar menghindari kejahatan perbankan dan ketiga lebih efisien," ujar Riezky.

Namun teknologi kata Riezky memang memakan biaya, tetapi jika BPR bisa memiliki IT yang bagus maka BPR akan bekerja dengan lebih efisien.

"BPR ini saat suku bunganya tinggi dan teknologinya belum efisien. Jika ATM belum bisa terbitkan sendiri bisa kerjasama dengan bank umum atau sesama BPR yang sudah memiliki jaringan ATM," ujarnya.

Teknologi pada akhirnya kata Riezky dipengaruhi modal yang dimiliki BPR. Ia juga menyebut jika ingin memiliki teknologi yang canggih maka perlu modal untuk investasi IT. Pemenuhan modal inti sebesar Rp6 miliar akan diterapkan 2019 dan 2018, OJK kata Riezky sudah mulai intens memantau permodalan.

"Banyak keuntungan sebenarnya jika merger yang mana sifatnya saling melengkapi, tidak hanya modal tapi banyak yang bisa dipadukan. Harapan kita dengan adanya merger ada penambahan kantor cabang, tidak hanya di cabang pertama dibuka tapi menjangkau daerah," ujarnya.

Tags
OJK
BPR
Penulis: Maskartini
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help