Banjir Tidak Bisa Dicegah, Ini Solusinya Menurut Dosen Hidrologi Lingkungan Untan

Sekarang banyak tanah yang tertutup bangunan dan jalan, kemudian air tidak bisa meresap atau air tidak bisa menggenang di sana

Banjir Tidak Bisa Dicegah, Ini Solusinya Menurut Dosen Hidrologi Lingkungan Untan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Claudia Liberani
Dosen Hidrologi Lingkungan Prodi Teknik Lingkungan Untan, Kiki P Utomo 

Tapi sebelum sampai di sana kita harus liat sebab banjir di Kota Pontianak. Banjir di kota Pontianak disebabkan tiga hal, pertama karena hujan, Pontianak sudah dilanda hujan lebih dari 12 jam.

(Baca: Cornelis Minta Masyarakat Cerdas Pilih Pemimpin )

Kedua, karena air Sungai Kapuas pasang, hujan jatuh di permukaan tanah dan mengalir ke tempat lain. Ketika sungai Kapuas pasang, air hujan dari Pontianak tidak bisa mengalir lagi dan terjadilah genangan di suatu tempat.

Sebab yang ketiga kita ada di hilir, air sungai yang ada di sini tidak semuanya dari kita tapi dari hulu Kapuas seperti Sanggau, Sekadau, Sintang, jadi ketika di sana hujan airnya mengalir dan sampai ke Pontianak.

Jadi airnya keluar di Pontianak, ada beberapa tempat keluarnya air, Pontianak salah satunya. Ketika ingin keluar, air di laut pasang air dari hulu tidak bisa ke mana-mana, ketika mau ke atas tempatnya meluber lada waktu itu hujan, air hujan juga harus keluar tapi tidak bisa keluar karena sungai sudah kadung penuh akibat pasang atau air dari hulu. Akhirnya yang di sungai meluap, yang di darat tertahan, itu yang sering kita lihat ketika ada kalanya Pontianak banjir.

Ketika Sungai Kapuas sedang penuh, hujan sedikit saja, bisa terjadi banjir karena air hujan tidak bisa ke mana-mana karena tanah kosong sudah tidak ada, jadi sebabnya menjadi genangan dan genangan ini semakin besar dan luas ketika ketiga hal ini terjadi dalam waktu bersamaan.

(Baca: Mahar Politik Boleh Atau Tidak? Ini Penjelasan Pengamat Politik Sukamto )

Pontianak tidak bisa menghindari hal ini karena kita di muara dan kita di hilir serta curah hujan kita tinggi. Curah hujan di Pontianak 2.000 milimeter lebih per tahun, jadi kira-kira ada dua meter air di atas permukaan tanah kita. Pontianak memang sudah rejekinya banyak air.

Maka kita tidak bisa melawan karena kita akan melawan tiga hal sekaligus, air pasang, air kiriman dari hulu dan air hujan. Pemerintah mungkin perlu berpikir soal adaptasi, ini disebut konsep cara lembut, daripada kita melawan, mengapa kita tidak hidup saja dengan air. Itu yang sebenarnya dulu dilakukan nenek moyang kita, contohnya rumah panggung, jadi sesekali air naik rumahnya tidak kebanjiran, tapi sekarang rumah orang kebanyakan rumah rata.

Atau contoh lainnya berpergian menggunakan perahu melalui saluran-saluran, itu adalah contoh-contoh adaptasi. Tapi tentunya naif jika sekarang kita melakukan itu. Karena adaptasi adalah solusi jangka panjang, sementara saat ini yang pemerintah lakukan adalah solusi jangka pendek, yaitu metode keras. Metode keras bisa saja dilakukan dengan membuat tanggul, saluran, bangunan dan jalan ditinggikan tapi pada akhirnya air itu akan berada di suatu tempat, selama tempat tersebut tidak ada dan tempat menuju tidak memungkinkan pasti akan ada kenangan.

Pengendara melintas di Jalan Gusti Hamzah (Pancasila), Pontianak, Jumat (12/1/2018) siang. Diguyur hujan sejak kamis (11/1) malam hingga Jumat (12/1) siang, sejumlah jalan di kota Pontianak di landa banjir rob. TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Pengendara melintas di Jalan Gusti Hamzah (Pancasila), Pontianak, Jumat (12/1/2018) siang. Diguyur hujan sejak kamis (11/1) malam hingga Jumat (12/1) siang, sejumlah jalan di kota Pontianak di landa banjir rob.
Halaman
123
Penulis: Claudia Liberani
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help