Jadi Generasi yang Cerdas, Baiti: Tidak Menikah Sebelum Siap

Saya manfaatkan media sosial seperti Instagram dan Bigo Live, responnya sangat bagus, kadang juga saya menulis di blog

Jadi Generasi yang Cerdas, Baiti: Tidak Menikah Sebelum Siap
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Claudia Liberani
Duta Genre Kalbar 2017, Suci Nurul Baiti, Meski tidak mudah mengubah pemahaman anak muda mengenai pernikahan, dia tidak menyerah untuk melakukan kampanye melalui media sosial dan edukasi langsung dengan sosialisasi.  

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjadi Duta Genre Kalbar 2017, Suci Nurul Baiti berperan sebagai penyambung pesan BKKBN kepada generasi muda di Kalbar agar memiliki pemahaman tentang keluarga berencana, kependudukan, pembangunan keluarga, demografi, narkoba dan HIV/AIDS. 

Berangkat dari tanggung jawabnya tersebut, dia mengungkapkan keinginannya untuk melakukan perubahan di kalimanatan barat agar tingkat pernikahan dini berkurang. Upaya yang dilakukannya agar perubahan itu terwujud adalah dengan melaksanakan beberapa program yang memanfaatkan media radio dan media sosial.  

Untuk memberikan pemahaman dan edukasi dia memanfaatkan radio komunitas (radio prokom, 107,9 mhz) untuk menyuarakan pesan-pesan yang harus disampaikannya.Untuk memberikan pemahaman dan edukasi dia memanfaatkan radio komunitas (radio prokom, 107,9 mhz) untuk menyuarakan pesan-pesan yang harus disampaikannya.

(Baca: KPU Gelar Rapat Kerja Pemutakhiran Data dan Daftar Pemilih Bersama Seluruh PPK )

Dia menuturkan pernikahan dini umumnya disebabkan oleh faktor ekonomi dan pendidikan karena itu perlu diberikan pemahaman agar anak-anak muda mengerti resiko yang dihadapi jika pernikahan dini terus terjadi. 

"Saya menyiarkan ajakan dan pesan-pesan agar tidak menikah di usia dini, saya juga menghadirkan para narasumber yang berkompeten di bidangnya untuk membagikan ilmu dan pengalaman, setelah itu berdasarkan obrolan dan diskusi yang kami bangun, saya akan memperoleh informasi baru yang akan saya aplikasikan pada masyarakat dalam bentuk pendekatan atau sosialisasi," katanya, Rabu (10/1/2018). 

Mahasiswi di IAIN Pontianak yang juga menteri di dewan mahasiswama IAIN ini menuturkan kampanye juga dilakukannya melalui media sosial dengan memanfaatkan fitur live di Instagram. 

Tak hanya itu, jika media sosial bigo live seringkali digunakan untuk live video hot, di sini dia melakukan kampanye mencegah pernikahan dini. 

"Saya lawan hal negatif dengan hal positif, walaupun sulit mengubah pemahaman anak-anak muda mengenai pernikahan, saya tidak mau menyerah. Saya manfaatkan media sosial seperti Instagram dan Bigo Live, responnya sangat bagus, kadang juga saya menulis di blog," tuturnya. 

Dia yang juga jurnalis kampus di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta ini mengingatkan resiko dari pernikahan dini bagi perempuan dan anaknya. 

"Perlu diketahui jika pernikahan dini merupakan penyumbang angka kematian yang tinggi karena keadaan sel-sel rahim yang belum matang, anak perempuan yang melahirkan di usia dini pun memiliki tingkat risiko komplikasi yang tinggi, seperti fistula obsteri, infeksi, keguguran, pendarahan hebat. Begitu pula Bayi yang dilahirkan memiliki resiko kematian lebih tinggi," jelasnya. 

Selain tidak baik bagi kesehatan, dia pernikahan dini  rentan memunculkan masalah-masalah sosial yang baru, ini karena belum siapnya psikologis sehingga bisa berujung pada ter jadinya konflik hingga perceraian. Karena itu perlu kesiapan, tidak hanya materi tapi juga mental.  "Jadilah generasi yang cerdas," pungkas penari di Sanggar Koma ini. 

Penulis: Claudia Liberani
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help