Sumbang 22 Miliar AS Devisa Negara, Sawit Kalahkan Minyak dan Sektor Pariwisata

Ia mengatakan sebelum Indonesia 100 tahun harus bisa menghasilkan devisa dari sawit sebasar 100 miliar AS melalui hilirisasi.

Sumbang 22 Miliar AS Devisa Negara, Sawit Kalahkan Minyak dan Sektor Pariwisata
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MASKARTINI
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung saat menjadi pemateri pada workshop "Jurnalis Menguak Fakta di Balik Industri Kelapa Sawit, Senin (8/1/2018) 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung mengatakan saat ini sawit menjadi komoditi penyumbang devisa terbesar bagi negara. Ia mengatakan nilai ekspor sawit Indonesia mencapai 22 miliar AS sehingga menjadi penyumbang terbesar devisa Indonesia. 

"Jadi penyumbang devisa terbesar saat ini adalah sawit, migas dan pariwisata dibawahnya. Oleh karenanya pemerintah mengatakan industri sawit merupakan industri strategis nasional. Kita perkirakan naik tahun ini ekspor Indonesia menjadi 25 miliar dolar," ujarnya saat Workshop Jurnalistik di Pontianak di Hotel Santika Pontianak yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan PWI Kalbar menggelar pada Senin (8/1/2018).

Baca: Tepis Isu Negatif Terhadap Sawit, Ini Kata Gapki Kalbar

Ia mengatakan sebelum Indonesia 100 tahun harus bisa menghasilkan devisa dari sawit sebasar 100 miliar AS melalui hilirisasi.

"Seharusnya ada ratusan produk hilir yang bisa dihasilkan dengan sawit. Industrilisasi yang sedang kita lakukan 4 ton lebih minyak per ha, kita mau menjadi 8 ton minyak per ha," ujarnya.

Baca: Gagalkan Transaksi Narkoba, Anggota Polsek Toho Lakukan Aksi Heroik Ini

Bahkan sabun, detergen, sampoo diakui Tungkot semuanya berasal dari sawit. Saat ini diakuinya beberapa produk bahkan sedang dikembangkan dunia. Ia mengatakan begitu banyak produk yang dihasilkan dari sawit, wajar kalau sawit mendapatkan banyak serangan. 
 

"Saya mengamati ini mulai dari tahun 1980, mengapa? Malaysia yang duluan mengembangkan perkebunan sawit sudah lebih dulu dihantam. Indonesia sekarang sudah menjadi produsen sawit nomor 1 terbesar di dunia," ujarnya. Kita nomor 1 baik minyak maupun CPO. Tapi kita belum sadar bahwa kita nomor 1 di dunia, atau baru mulai sadar," ujarnya.

Menjadi leader harusnya Indonesia kata Tungkot mememimpin genderang bukan menari mengikuti genderang dunia.

"2006 lalu Malaysia sudah kita kalahkan, di dunia sedang terjadi revolusi minyak nabati. Disana juga sawit sudah menggeser minyak kedelai dari AS, Brazil dan Argentina. 2006 minyak sawit menyalip minyak kedelai, itu lah sumber kenapa kampanye negatif terhadap sawit sangat kuat," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help