TribunPontianak/

Askasindo, Hadapi ISPO Petani Sawit Perlu Pembinaan

Wagio Ripto mengatakan sawit serta empat komoditi lain yang sebagai komoditi strategis belum bisa diandalkan sepenuhnya.

Askasindo, Hadapi ISPO Petani Sawit Perlu Pembinaan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MASKARTINI
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Askasindo), Wagio Ripto 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Askasindo), Wagio Ripto mengatakan sawit serta empat komoditi lain yang sebagai komoditi strategis belum bisa diandalkan sepenuhnya.

Namun ia mengaku sawit masih menjadi komoditi yang menjanjikan dibandingkan karet.

"Sawit masih lebih menjanjikan dibandingkan karet. Dari lima komoditas ini belum terlihat adanya perubahan signifikan terhadap petani. Contoh karet, harga tingkat petani masih rendah. Kelapa dari segi produktivitas harga bagus, tapi produktivitas kurang baik. Hanya sawut, namun masalahnya di permodalan," ungkapnya pada Senin (8/1/2018).

Baca: Sumbang 22 Miliar AS Devisa Negara, Sawit Kalahkan Minyak dan Sektor Pariwisata

Diakuinya untuk kelapa sawit permasalahan yang ada ditingkat petani, akses modal sangat sulit.

"Tidak ada pembinaan, disuruh pinjam, teken kontrakan, bulan depan sudah disuruh bayar. Padahal sawit itu butuh waktu 3 tahun. Syarat berat lain, butuh agunan, tentu petani kan sangat keberatan untuk menunjukkan agunan sesuai modal diperlukan, belum lagi persyaratan lain," ujarnya.

Baca: Tepis Isu Negatif Terhadap Sawit, Ini Kata Gapki Kalbar

"Lembaga keuangan belum berpihak kepada petani. Jadi ya akhirnya belum dapat, berharap dari BDBP yang dibentuk pemerintah ini menjadi harapan petani keluar dari solusi tadi. Sudah ada petunjuk, tapi eksekusi belum jalan. Dana tersebut bisa untuk perbaikan infra jalan, replanting, pembinaan kelembagaan kelompok tani. Jadi selama ini petani boleh dibilang tidak ada pembinaan karena untuk mendapatkan pupuk, pendampingannya sangat sedikit dirasakan petani," ujarnya.

Sehingga petani dalam pengelolaan kebunnya kata Wagio masih rendah.

Diharapkan kedepan petani harus ISPO padahal diakuinya kalau petani diminta memperbaiki kebunnya membutuhkan modal yang besar. Penamanan versi ISPO diakuinya juga berbeda dengan versi petani.

"Saya usul ISPO ada tingkatannya. Misalnya ada tingkat C kemudian kelas B. Belum ada segala macam ada kelengkapan yang harus dilengkapi. Pembinaan beberapa tahun ditingkatkan jadi kelas B. Jadi petani tidak dibina setelah diuji tidak lulus, itu akan bikin citra jelek petani, nanti mereka sulit menjual buah, karena tidak ada sertifikat. Ini baru digodok tim ISPO, saya sampaikan petani perlu pembinaan, nanti petani mengikuti," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help